News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geografi Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geografi Sosial. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juli 23

Perbedaan Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik

Perbedaan Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik

Setiap kelompok sosial pasti memiliki suatu ikatan yang kuat dan ini adalah hal yang biasa terjadi. Manusia tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan suatu komunitas.

Kelompok sosial terbentuk bisa secara alami pada masyarakat karena kesamaan identitas. Orang punya profesi ojek online kemudian ngumpul sesama pengojek maka jadilah kelompok komuntas Ojol.

Begitupun profesi atau lainnya pasti punya kelompok. Emile Durkheim membagi kelompok sosial menjadi dua yaitu kelompok sosial solidaritas mekanik dan kelompok sosial solidaritas organik.

1. Solidaritas Mekanik
Solidaritas mekanik adalah ciri dari masyarakat yang masih sederhana dan belum mengenal pembagian kerja. Tiap kelompok dapat memenuhi keperluan mereka masing-masing tanpa memerlukan bantuan atau kerjasama dengan kelompok luar.

Dalam masyarakat yang menganut solidaritas mekanik yang utama adalah persamaa perilaku dan sifat. Artinya semua warga masyarakat diikat oleh suatu kesadaran kolektif.

Kesadaran kolektif adalah kesadaran bersama yang memiliki tiga karakteristik yaitu mencakup seluruh kepercayaan dan perasaan kelompok, ada di luar warga dan bersifat memaksa.

Sanksi untuk pelanggaran kesadaran bersama akan dikenai hukuman yang sifatnya represif (pidana). Kesadaran bersama itu menjaga persatuan sementara hukum itu tujuannya agar tercipta kondisi seimbang dan jauh dari sifat menyimpang. Kalaupun terjadi penyimpangan maka diharapkan dapat pulih kembali.
Solidaritas mekanik pada masyarakat petani
2. Solidaritas Organik
Solidaritas organik merupakan bentuk solidaritas yang telah mengenal sistem pembagian kerja. Bentuk solidaritas organik sifatnya mengikat sehingga unsur-unsur di dalam masyarakat itu saling bergantung.

Karena ada saling ketergantungan maka ketiadaan salah satu unsur akan mengakibatkan terganggunya kehidupan masyarakat. Pada masyarakat sistem solidaritas mekanik, ikatan utama yang menyatukan individu bukan lagi kesadaran kolektif tapi kesepakatan ayng terjalin diantara berbagai profesi.

Hukum yang menonjol bukan pidana tapi perdata. Sanksi terhadap pelanggaran bersifat restitutif artinya si pelanggar harus membayar ganti rugi kepada yang dirugikan untuk mengmeblaikan keseimbangan yang telah ia langgar sebelumnya.

Selasa, Agustus 27

Teori-Teori Perilaku Menyimpang di Masyarakat

Teori-Teori Perilaku Menyimpang di Masyarakat

Kehidupan manusia semakin kompleks seiring berkembangnya peradaban. Berbagai perilaku manusia kini sudah banyak yang tidak sesuai dengan kaidah hidup seorang manusia. 

Perilaku yang tidak sesuai tersebut dinamakan perilaku menyimpang. Beberapa ahli sosiologi mengemukakan teori terkait fenomena perilaku menyimpang ini.

Bila dilihat dari pelakuanya, perilaku menyimpang tidak hanya dilakukan secara perseorangan, tetapi tidak jarang dilakukan secara berkelompok. 

Penyimpangan yang dilakukan secara berkelompok disebut dengan subkultur menyimpang. Subkultur adalah sekumpulan norma, nilai, kepercayaan, kebiasaan, atau gaya hidup yang berbeda dari kultur dominan.

Asal mula terjadinya subkultur menyimpang karena ada interaksi di antara sekelompok orang yang mendapatkan status atau cap menyimpang. Melalui intensitas interaksi terbentuklah perasaan senasib dalam menghadapi dilema yang sama. 

Para anggota dari subkultu seperti itu memiliki perasaan saling pengertian dan memiliki jalan pikiran, nilai dan norma serta aturan tingkahlaku yang berbeda dengan kultur dominan. 

Para anggota subkultur menyimpang biasanya juga mengajarkan kepada anggota baru tentang berbagai ketrampilan untuk melanggar hukum dan menghindari kejaran aparatus kontrol sosial. 
LGBT adalah perilaku menyimpang
1. Teori Anomie
Salah satu teori yang menjelaskan perilaku menyimpang adalah teori anomie Robert K. Merton (Narwoko dan Suyanto, 2004: 91). 

Teori ini berasumsi bahwa penyimpangan adalah akibat dari adanya berbagai ketegangan dalam struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi menyimpang. Merton menggambarkan munculnya keadaan anomie sebagai berikut:
a.    Masyarakat industri modern, seperti Amerika Serikat, lebih mementingkan pencapaian kesuksesan materi yang diwujudkan dalam bentuk kemakmuran atau kekayaan dan pendidikan yang tinggi.
b.    Apabila hal tersebut dicapai maka dianggap telah mencapai tujuan-tujuan status atau  kultural (cultural goals) yang dicita-citakan oleh masyarakat. Untuk mencapai itu ternyata harus melalui akses atau cara kelembagaan yang sah (institutionalized means), misalnya sekolah dan pekerjaan formal.
c.    Namun ternyata akses kelembagaan yang sah jumlahnya tidak dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama lapiran bawah.
d.    Akibat dari keterbatasan akses tersebut maka muncul situasi anomie yaitu suatu situasi di mana tidak ada titik temu antara tujuan-tujuan status/kultural dan cara-cara yang sah yang tersedia untuk mencapainya.
e.    Anomie adalah suatu keadaan atau nama dari suatu situasi di mana kondisi sosial/situasi masyarakat lebih menekankan pentingnya tujuan-tujuan status, tetapi cara-cara yang sah untuk mencapainya jumlahnya lebih sedikit.

2. Teori Labelling 
Teori labelling menjelaskan penyimpangan terutama ketika perilaku sudah sampai pada tahap penyimpangan sekunder (secondary deviance). 

Teori lebih tertarik pada persoalan definisi-definisi sosial dan sanksi-sanksi sosial negatif yang dihubungankan dengan tekanan-tekanan individu untuk masuk pada tindakan yang lebih menyimpang. 

Teori ini tidak tertarik mengapa individu tertentu tertarik atau terlibat dalam tindakan menyimpang. Teori ini dalam menganalisis pemberian cap memusatkan pada reaksi orang. 

Artinya, ada orang-orang yang memberi definisi, julukan, atau pemberi label (definers/labeler) pada individu-individu atau tindakan yang menurut penilaian orang itu adalah negatif (narwoko dan Suyanto, 2004: 94-95). 

Teori labelling mendefinisikan penyimpangan sebagai suatu konsekuensi dari penarapan aturan-aturan dan sanksi oleh orang lain kepada seorang pelanggar. 

Melalui definisi ini dapat ditetapkan bahwa menyimpang adalah tindakan yang dilabelkan kepada seseorang, atau kepada siapa lebel secara khusus telah ditetapkan. 

Dengan demikian dimensi penting dari penyimpangan adalah pada adanya reaksi masyarakat, bukan pada kualitas dati tindakan itu sendiri. 

Dengan kata lain, penyimpangan tidak ditetapkan berdasarkan norma, tetapi melalui reaksi atau sanksi dari penonton sosialnya. Akibat dari pelabelan adalah pada tindakan penyimpangan lebih lanjut. 

Dengan adanya cap yang dilekatkan pada diri seseorang maka ia cenderung mengembangkan konsep diri yang menyimpang  dan berakibat pada suatu karier yang menyimpang. Proses terjadinya penyimpangan sekunder membutuhkan waktu yang panjang dan tidak kentara.

3.  Teori Belajar atau Teori Sosialisasi
Teori Belajar atau Teori Sosialisasi berpandangan bahwa penyimpangan perilaku adalah hasil dari proses belajar. Edwin H. Sutherland (dalam Narwoko dan Suyanto, 2004: 92-93) mengatakan bahwa penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari  dari norma-norma yang menyimpang, terutama dari subkultur atau antara teman-teman sebaya yang menyimpang. 

Di tingkat kelompok, perilaku menyimpang adalah suatu konsekuensi dari terjadinya konflik normatif. Artinya, perbedaan aturan sosial di berbagai kelompok sosial seperti sekolah, lingkungan tetangga, kelompok teman sebaya atau keluarga, bisa membingungkan individu yang masuk ke dalam komunitas-komunitas tersebut. Situasi ini dapat menyebabkan ketegangan yang berujung menjadi konflik noramtif pada diri individu. 

Saya berikan contoh: bila di sekolah seorang anak diajarkan nilai-nilai kejujuran, tetapi di luar sekolah nilai-nilai kejujuran telah ditinggalkan, maka perbedaan norma di antara berbagai kelompok sosial yang dialami anak tersebut dapat saja melunturkan nilai-nilai kejujuran yang diajarkan di sekolahnya.

Jumat, Mei 24

Teori Perubahan Sosial Ibnu Khaldun

Teori Perubahan Sosial Ibnu Khaldun

Salah satu pemikir sosiologi terkenal dari kaum muslim adalah Ibnu Khaldun. Teori ini dimulai dari pertanyaan kemanakah arah perkembangan manusia?.

Cara yang lebih umum dalam menerangkan arah perubahan manusia adalah dengan membayangkan sebagai siklus. Salah satu teori yang menjelaskan perubahan manusia secara siklus adalah Ibnu Khaldun. 

Ibnu Khaldun, jauh sebelum Sosiologi sebagai ilmu lahir, pada Abad ke-14 dalam karyanya berjudul Muaddimah menjelajahi berbagai faktor yang terlibat dalam perubahan sosial. 

Khaldun meneliti pengaruh lingkungan fisik terhadap manusia, bentuk-bentuk organisasi sosial primitif dan modern, hubungan antar kelompok, dan berbagai fenomena kultural.

Khaldun dapat dianggap sebagai pelopor sosiologi yang memperkenalkan dan menggunakan 6 prinsip yang menjadi landasan sosiologi. Keenam prinsip tersebut adalah:
1. Fenomena sosial mengikuti pola-pola yang sah menurut hukum. Pola tersebut menunjukkan keteraturan  yang cukup untuk dikenali dan dilukiskan;
2.  Hukum-hukum perubahan itu berlaku pada tingkat kehidupan masyarakat (bukan pada tingkat individu);
3. Hukum-hukum proses sosial harus ditemukan melalui pengumpulan banyak data dan dengan mengamati hubungan antara berbegai variabel;
4. Hukum-hukum sosial yang serupa, berlaku dalam brbegai  masyarakat yang serupa strukturnya. Masyarakat dapat dibedakan dari segi waktu dan tempat, namun ditandai oleh hukum-hukum serupa karena kesamaan struktur sosialnya;
5. Masyarakat ditandai oleh perubahan. Tingkat perubahan antara masyarakat satu dengan lainnya mungkin sangat berbeda;
6.  Hukum-hukum yang berlaku terhadap perubahan itu bersifat sosiologis, bukan bersifat biologis atau bersifat alamiah.
Ibnu Khaldun bapak sosiologi
Khaldun memikirkan pengaruh lingkungan fisik terhadap perilaku manusia. Ia menyatakan bahwa peradaban besar hanya dapat muncul di kawasan beriklim sedang. Udara panas menimbulkan kegembiraan.

Makanan yang terlalu banyak mengandung zak tepung membuat orang berotak tumpul. Ini bukan faktor penting dalam memahami sejarah. 

Perubahan sosial harus dilihat dari variabel-variabel sosial, seperti solidaritas, mata pencaharian, kepemimpinan, dan kemakmuran.

Menurut Khaldun, sejarah adalah sebuah lingkaran tanpa ujung dari pertumbuhan dan kehancuran. Khaldun melukiskan sejarah alamiah kekaisaran yang dibangun menurut tiga generasi. 


Generasi pertama, termasuk orang yang mengembara untuk menaklukkan. Sekali menetap di kota, mereka mempertahankan kekuatan dan solidaritas kehidupan padang pasir mereka. 

Generasi kedua, telah terpengaruh kehidupan menetap. Generasi ini ditandai oleh kemewahan dan kemegahan yang menggantikan solidaritas dan kehidupan keras. Generasi ketiga, kualitas kehidupan padang pasir  telah dilupakan. 

Di masa ini kehidupan menetap telah mengambil korbannya, yaitu keuzuran kekaisaran mulai kelihatan, dan generasi keempat mulai menghadapi kehancuran. Ibnu Khaldun melukiskan proses yang sama menurut 5 tingkatan. Lima tingkat tersebut adalah:

1. Nomaden berhasil menghancurkan seluruh penentangnya dan mendirikan kerajaan baru;
2. Terjadi konsolidasi kekuatan karena penguasa baru memperkokoh pengendaliannya atas kawasan yang baru dikuasainya;
3. Tingkat kesenangan dan kesentosaan;
4. Di tingkat ini kedamaian terus berlanjut, ditanadi oleh penekanan upaya pada pemeliharaan kebudayaan lama daripada pengembangan kebudayaan baru;
5. Tingkat kehancuran. Raja menghambur-hamburkan uang negara untuk membiayai kemewahan dirinya dan lingkungan dalamnya.

Kamis, Mei 23

Perbedaan Mobilitas Vertikal, Horizontal dan Antargenerasi

Perbedaan Mobilitas Vertikal, Horizontal dan Antargenerasi

Manusia adalah mahluk yang dinamis semenjak diturunkan ke bumi. Di ten

gah peradaban yang semakin komplek, manusia dapat melakukan mobilitas secara sosial. Menurut Sorokin (dalam Soekanto, 1990) menyebutkan, ada dua tipe gerak sosial yang mendasar. 

Berikut ini akan dijelaskan secara rinci mengenai dua tipe mobilitas sosial tersebut:

a)    Mobilitas Horizontal
Mobilitas sosial horizontal adalah perpindahan status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam lapisan yang sama atau peralihan status individu atau kelompok dari suatu kelompok sosial lainnya yang sederajat. 


Menurut Suyanto mobilitas sosial horizontal adalah perpindahan individu atau objek-objek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial yang satu ke kelompok social lainnya yang sederajat (Suyanto, 2004: 189). Status sosial pada mobilitas horizontal tetap sama dan relatif bersifat stabil. 

Pendidikan sarana mobilitas sosial
Ciri utama mobilitas horizontal adalah lapisan sosial yang ditempati tidak mengalami perubahan. Dalam mobilitas sosial horizontal tidak terjadi perubahan dalam derajat status seseorang ataupun objek sosial lainnya. 

Misalkan seorang buruh petani yang pada musim paceklik pindah ke kota untuk bekerja sebagai buruh tidak bisa dikategorikan sebagai mobilitas sosial vertikal karena tidak ada perubahan pendapatan secara signifikan dan ini termasuk mobilitas sosial horizontal.

b)    Mobilitas Vertikal
Gerak sosial vertikal, yaitu peralihan individu atau kelompok dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan lainnya yang tidak sederajat. Selanjutya dijelaskan bahwa sesuai dengan arahnya, gerak sosial vertikal secara khusus dapat dibedakan menjadi dua, sebagai berikut:

1)    Mobilitas sosial vertikal naik
Gerak sosial vertikal naik (social climbing), berupa masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi yang telah ada sebelumnya atau pembentukan suatu kelompok baru yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu-individu pembentuk kelompok itu. 

2)    Mobilitas sosial vertikal turun
Gerak sosial vertikal turun (social sinking), berupa turunnya kedudukan individu ke kedudukan yang lebih rendah derajatnya atau turunnya derajat sekelompok individu yang dapat berupa suatu disintegrasi dalam kelompok sebagai kesatuan.

c)    Mobilitas Sosial Antargenerasi
Mobilitas antargenerasi adalah perpindahan antara dua generasi atau lebih, Mobilitas Antargenerasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) mobilitas intergenerasi, adalah perpindahan status sosial yang terjadi diantara beberapa generasi; dan (2) mobilitas intragenerasi, adalah perpindahan status sosial yang terjadi dalam satu generasi yang sama.

Minggu, Mei 19

Definisi Kebudayaan Lokal dan Nasional

Definisi Kebudayaan Lokal dan Nasional

Teman-teman sekarang tinggal di daerah mana sih di Indonesia? Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Papua atau mana?. 

Tentu kamu punya kebudayaan masing-masing kan di daerahmu sendiri yang unik. Kali ini kita akan belajar tentang apa itu kebudayaan lokal dan apa itu kebudayaan nasional. 

Untuk memberikan gambaran yang utuh terhadap budaya atau kebudayaan nasional, maka perlu memahami terlebih dahulu konsepsi tentang budaya. 

Secara Etimologi, budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “buddayah” yang merupakan bentuk jamak dari kata “buddi” yang artinya budi atau akal. 

Dengan demikian budaya atau kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya merupakan perkembangan majemuk dari budi daya, yang berarti daya dari budi. 

Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa. Adapun kebudayaan menurut ilmu antropologi adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan tindakan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan kehidupan suatu masyarakat. Masyarakat adalah orang-orang yang hidup dan beraktivitas bersama dan menghasilkan kebudayaan, sehingga tidak ada masyarakat yang tidak menghasilkan kebudayaan. 

Demikian juga sebaliknya tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya”.
Definisi Kebudayaan Lokal dan Nasional
Kebudayaan Indonesia adalah anugerah
Untuk memahami bagaimana kebudayaan lokal dan kebudayaan nasinal, berikut diuraikan masing-masing jenis kebudayaan.
1.    Budaya Lokal
Budaya lokal adalah budaya yang hidup dan berkembang di daerah- daerah dan merupakan milik suku-suku bangsa yang tinggal di seluruh wilayah Indonesia. 


Beragamnya budaya lokal yang terdapat di seluruh wilayah Iindonesia menjadi khasanah dan kekayaan bangsa Indonesia. 

Oleh karena itu budaya lokal akan terus dibiarkan dan dilestarikan oleh masing- masing daerah atau suku bangsa sesuai dengan kondisi lingkungan baik fisik maupun lingkungan sosialnya.

Sebagai contoh budaya lokal antara lain, masih adanya tradisi “Selametan” yang diadakan dalam menandai proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia pada Suku Bangsa Jawa. 


Hal ini terlihat pada acara selametan menandai masa kehamilan tujuh bulan yang disebut Mitoni atau Tingkepan, selamatan orang yang sudah meninggal dan sebagainya. 

Selain itu acara ritual “Garebeg Suro” dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan ritual “Ngaben” bagi masyarakat Suku Bangsa Bali adalah contoh dari budaya lokal yang terdapat di wilayah nusantara.

Kebudayaan Lokal Indonesia meliputi semua budaya yang terdapat di Indonesia yaitu segala puncak dan sari kebudayaan yang bernilai di seluruh kepulauan Indonesia, baik yang ada sejak lama maupun ciptaan baru yang berjiwa nasional. 


Peranan budaya lokal ini mempunyai peranan yang penting dalam memperkokoh ketahanan budaya bangsa, oleh karena itu Pemerintah Daerah dituntut untuk bergerak lebih aktif melakukan pengelolaan kekayaan budaya, karena budaya tumbuh dan kembang pada ranah masyarakat pendukungnya. 

Disamping itu, bagi pemerintah pusat, Lembaga Swadaya Masyarakat, masyarakat sendiri, dan elemen lainnya haruslah menyokong atas keberlangsungan dalam pengelolaan kekayaan budaya kedepan.

2.    Budaya Nasional
Disamping budaya lokal, terdapat pula budaya nasional. Koentjaraningrat mengatakan bahwa ”kebudayaan nasional” adalah suatu kebudayaan yang didukung oleh sebagian besar warga suatu negara, dan memiliki syarat mutlak bersifat khas dan dibanggakan, serta memberikan identitas terhadap warga. 


Identitas budaya ini yang menandai keberadaan budaya nasional dan menjadi pembeda terhadap budaya nasional negara lain. 

Dengan demikian, budaya nasional Indonesia adalah budaya yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia sejak zaman dahulu hingga kini. 

Budaya ini sebagai suatu karya yang dibanggakan dan memiliki kekhasan dari bangsa Indonesia dan merupakan jati diri dan identitas bangsa Indonesia yang kuat.

Berdasarkan Pasal 32 UUD 1945 kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. 


Kebudayaan bangsa merupakan perwujudan dari Budaya Nasional yang secara abstrak tertuang dalam system gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia. 

Sedangkan perwujudan konkret dari budaya nasional adalah cara berbahasa, cara berperilaku, cara berpakaian, dan sistem peralatan untuk menjalani hidupnya.

Sifat khas yang dimaksudkan di dalam kebudayaan nasional dapat dimanifestasikan pada unsur budaya bahasa, kesenian, pakaian, dan upacara ritual. Sedangkan unsur kebudayaan lain bersifat universal tidak dapat memunculkan ciri khas, seperti teknologi, ekonomi, sistem kemasyarakatan, dan religi/agama. 


Kebudayaan nasional sesungguhnya dapat berupa sumbangan dari kebudayaan lokal. Dari sumbangan beberapa kebudayaan lokal yang tergabung menjadi satu ciri khas dan kemudian menjadi kebudayaan nasional.

Budaya nasional pada realitasnya dapat ditemukan dan terlihat dalam berbagai wujud. Koentjaraningrat (2004) dalam Bukunya yang berjudul “Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan”, membagi kebudayaan menjadi 4 wujud, antara lain:
a.    Artifak/benda-benda fisik, yaitu semua hasil karya manusia yang bersifat konkret dan dapat diraba/difoto.
b.    Sistem tingkah laku berupa tindakan berpola dari manusia yang merupakan penggambaran wujud tingkah laku manusia yang bersifat konkret, dapat difoto dan difilmkan.
c.    Sistem budaya yaitu sistem gagasan yang menggambarkan wujud gagasan dari kebudayaan yang berada dalam alam pikiran tiap individu, sifatnya abstrak, tidak dapat difoto dan difilmkan, hanya dapat diketahui dan dipahami.
d.    Sistem gagasan yang ideologis yang menentukan sifat dan corak pikiran, cara berpikir, serta tingkah laku manusia. 


Sumber: Modul Pengembangan Karir Guru

Jumat, Maret 22

Perbedaan Konflik Vertikal, Horizontal, Realistis, Non Realistis dan Status

Perbedaan Konflik Vertikal, Horizontal, Realistis, Non Realistis dan Status

Halo teman-teman kali ini saya akan coba memberikan materi sosial terkait konflik nih. 

Konflik itu adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat apalagi pada masyarakat majemuk seperti Indonesia. 

Jadi pada dasarnya konflik muncul karena adanya perbedaan ya guys. Lalu apa saja sih jenis-jenis konflik itu?. 

Ternyata ada banyak jenis konflik sosial lho diantaranya konflik vertikal, horizontal, realistis, non realistis dan status.

a. Konflik Vertikal
Konflik vertikal adalah konflik yang terjadi diantara pemerintah dengan masyarakat. Artinya ada perbedaan tingkatan status dalam konflik vertikal. 

Contoh konflik vertikal adalah konflik antara pemerintah dengan rakyat soal penggusuran lahan untuk proyek tertentu. Contoh lainnya adalah konflik antara guru dengan siswa di sekolah. 

Konflik vertikal biasanya terjadi karena ketidakpuasan dan ketidakadilan pemerintah/pemangku kebijakan terhadap masyarakat bawah.

b. Konflik Horizontal
Konflik horizontal adalah konflik yang terjadi diantara dua kelompok yang memiliki kesamaan kelas sosial atau golongan. Contoh konflik horizontal adalah konflik antar umat beragama, konflik antar etnis, suku atau konflik antar pegawai di kantor misalnya. 
Satpol PP menangkut gerobak pedagang kaki lima
c. Konflik Realistis
Konflik realistis adalah konflik yang berasal dari adanya kekecewaan individu atau kelompok masyarakat terhadap sistem dan tuntutan-tuntutan yang ada pada hubungan sosial. Contoh konflik realistis adalah mahasiswa demo pemerintah atas kenaikan harga BBM, atau demo pedagang atas penertiban PKL di trotoar.

d. Konflik Non Realistis
Konflik Non Realistis adalah konflik yang bukan berasal dari tujuan persaingan yang berlawanan tapi merupakan kebutuhan pihak tertentu untuk meredakan ketegangan. 

Contoh konflik non realistis yaitu mencari kambing hitam atas permasalahan yang terjadi sehingga kedua pihak yang konflik bisa mengurangi ketegangan, karena kesalahan dilimpahkan ke pihak ketiga.

e. Konflik Status
Konflik status terjadi jika individu dalam masyarakat memiliki lebih dari satu status dalam waktu bersamaan. Konflik status dibagi menjadi konflik perorangan dan kelompok. Contoh konflik status perorangan yaitu seorang ayah sekaligus hakim yang mengadili anaknya yang tersangkut kasus korupsi. 

Contoh konflik status kelompok yaitu adanya peraturan yang dibuat lembaga namun merugikan lembaga lain.

Contoh Soal
1. Bentuk-bentuk konflik sosial:
1) pembakaran tempat ibadah oleh oknum tertentu
2) konflik antar suku di Indonesia
3) demontrasi buruh menurut kenaikan upah
4) sweeping oleh organisasi massa ke tempat diskotik
Berdasarkan contoh diatas, contoh konflik horizontal adalah ....
A. 1 dan 2
B. 1 dan 3
C. 2 dan 3
D. 2 dan 4
E. 3 dan 4

Jumat, Maret 1

Pengertian, Ciri Perilaku Menyimpang Masyarakat

Pengertian, Ciri Perilaku Menyimpang Masyarakat

Perilaku menyimpang merupakan salah satu contoh gejala sosial yang umum terjadi pada masyarakat. 

Contoh perilaku menyimpang sangat banyak seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, bullying, LGBT, asusila dan lainnya. 

Inilah yang harus kita hindari agar kehidupan menjadi aman nyaman terkendali dan tidak menimbulkan masalah. Berikut beberapa pengertian perilaku menyimpang menurut para ahli.

a. James Vander Zanden
Perilaku menyimpang merupakan perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang.
b. M.Z. Lawang
Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.
c. Bruce J. Cohen
Perilaku  menyimpang  adalah  setiap  perilaku  yang  tidak  berhasil  menyesuaikan diri   dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok  tertentu dalam masyarakat.
d. Paul B. 
HortonPerilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.

Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli tersebut, pengertian perilaku menyimpang dapat disederhanakan menjadi  setiap  perilaku  yang  tidak  sesuai  dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat.

Perilaku seperti ini terjadi karena seseorang mengabaikan  norma  atau  tidak  mematuhi patokan baku dalam  masyarakat  sehingga sering dikaitkan dengan istilah-istilah buruk atau negatif.
Pengertian, Ciri Perilaku Menyimpang Masyarakat
Perlaku menyimpang
Menurut Paul B. Horton perilaku menyimpang memiliki enam ciri sebagai berikut.
a. Penyimpangan harus dapat didefinisikan
Tidak  ada perbuatan  yang  begitu  saja  dinilai  atau  dianggap  menyimpang.  Suatu perbuatan dikatakan menyimpang jika memang didefinisikan sebagai penyimpangan. 

Perilaku  menyimpang  bukanlah  semata-mata  ciri  tindakan  yang  dilakukan  orang, melainkan akibat dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang  lain  terhadap  perilaku  tersebut.  

Jadi,  penilaian  menyimpang  atau  tidaknya suatu perilaku harus berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya. 

b. Penyimpangan bisa diterima atau bisa juga ditolak 
Perilaku menyimpang tidak selalu merupakan hal yang negatif. Ada beberapa penyimpangan  yang  diterima,  bahkan  dipuji  dan  dihormati,  seperti  orang  genius yang mengemukakan pendapat-pendapat baru yang kadang-kadang bertentangan dengan pendapat umum atau pahlawan yang gagah berani dan sering terlibat dalam peperangan.  

Sementara  itu,  perampokan  pembunuhan  terhadap  seseorang  atau etnis tertentu, dan menyebarkan teror dengan bom termasuk dalam penyimpangan yang ditolak oleh masyarakat.

c. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak
Di   dalam   suatu   masyarakat   tidak   ada   seorang   pun   yang   termasuk   kategori sepenuhnya  penurut  (konformis)  atau  sepenuhnya  penyimpang. 

Pada  dasarnya semua  orang  normal  pasti  pernah  melakukan  tindakan  yang  menyimpang  dari norma-norma  yang  berlaku  namun  pada  batas-batas  tertentu  yang  sifatnya  relatif.

Untuk  setiap  orang. Perbedaannya hanya pada seberapa sering (frekuensi) dan kadar  penyimpangannya saja. Meskipun ada orang yang sering sekali melakukan penyimpangan sosial (penyimpangan mutlak),  lambat laun orang tersebut harus berkompromi dengan lingkungannya.

d. Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal
Budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Namun dalam kenyataannya, tidak ada seorang pun yang   patuh terhadap  segenap peraturan resmi tersebut. 

Antara  budaya  nyata  dan  ideal  selalu terjadi  kesenjangan. Artinya, peraturan  yang telah  menjadi  pengetahuan  umum dalam kenyataan kehidupan sehari-hari cenderung banyak dilanggar.

e. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan sosial
Apabila pada suatu masyarakat  terdapat  nilai atau  norma  yang  melarang  suatu perbuata  yang ingin  sekali diperbuat oleh banyak orang, akan muncul  “norma-norma  penghindaran”. 

Norma penghindaran  adalah  bentuk  perbuatan  yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka tanpa harus menentang nilai-nilai  tata  kelakuan secara terbuka. Jadi, norma penghindaran merupakan suatu bentuk penyimpangan perilaku yang bersifat setengah melembaga. 

f. Penyimpangan sosial yang bersifat adaptif (menyesuaikan)
Penyimpangan sosial tidak  selalu  merupakan ancaman  karena kadang-kadang dapat  dianggap sebagai alat pemelihara ketenangan atau ketentraman  sosial. Di satu  pihak,  masyarakat memerlukan keteraturan dan  kepastian  dalam  kehidupan. 

Di lain pihak, perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan  dengan  perubahan  sosial.  Tanpa  perilaku  menyimpang,  penyesuaian budaya terhadap perubahan kebutuhan dan keadaan akan menjadi sulit. 

Tidak ada masyarakat  yang  mampu  bertahan  dalam  kondisi  tetap  dalam  jangka  waktu  lama. Masyarakat  yang  terisolasi  sekali  pun  akan  mengalami  perubahan.  Perubahan  ini mengharuskan banyak orang untuk menerapkan norma-norma baru.

Rabu, Mei 23

Pengertian Geografi Populasi, Cabang Geografi Manusia

Pengertian Geografi Populasi, Cabang Geografi Manusia

Geografi Populasi adalah cabang ilmu geografi manusia yang fokus dalam mengkaji manusia, sebaran dan kepadatannya. 

Untuk mempelajari faktor ini, geografer akan meneliti peningkatan dan penurunan populasi, pergerakan manusia waktu ke waktu, pola pemukiman umum dan aspek lain seperti pekerjaan dan bagaimana manusia membentuk karakter suatu tempat. Geografi Populasi sangat erat dengan demografi.

Topik Geografi Populasi
Geografi populasi adalah cabang ilmu geografi yang mengandung beberapa topik berbeda terkait populasi dunia. Topik pertama adalah tentang distribusi populasi yang menggambarkan sebaran dimana orang tinggal atau bermukim. 

Populasi manusia dunia tidak merata karena beberapa tempat merupakan pedesaan yang jarang dan di tempat lain seperti perkotaan sangat padat penduduknya. 

Geografi populasi tertarik pada distribusi populasi karena bisa melihat sejarah perkembangan penduduk suatu tempat dan mengapa suatu daerah bisa tumbuh menjadi kota besar. 

Biasanya daerah yang jarang penduduknya adalah daerah-daerah yang "kejam" seperti di utara Kanada dan Siberia karena iklim ekstrim sementara daerah yang padat penduduknya lebih ramah dari sisi iklim dan morfologi.

Berkaitan erat dengan populasi adalah kepadatan penduduk yaitu topik lainnya. Kepadatan populasi mempelajari rata-rata jumlah populasi dalam suatu area dengan cara membagi total luas wilayah dengan jumlah penduduk. 

Biasanya angka ini ditunjukkan dengan satuan per kilometer persegi atau mil persegi. Kepadatan penduduk di Jakarta dengan di Solo tentu berbeda contohnya.

Pertumbuhan penduduk adalah aspek lain yang ada pada geografi populasi. Ini karena populasi meningkat dramatis dalam dua abad terakhir. Pertumbuhan penduduk dapat dihitung secara alami dan total. 

Pertumbuhan alami dipengaruhi faktor kelahiran dan kematian sementara pertumbuhan total ditambah faktor migrasi.
Pengertian Geografi Populasi, Cabang Geografi Manusia
Pertumbuhan populasi dunia waktu ke waktu
Tingkat pertumbuhan penduduk alami dunia dulu menyentuh angka nol yang artinya kematian sama dengan kematian. Namun peningkatan kesehatan, pendapatan dan standar hidup telah menurunkan angka kematian. 

Di negara maju tingkat kelahiran menurun namun di negara berkembang masih tinggi. Akibatnya populasi tumbuh secara eksponensial.

Aspek penting lain untuk mempelajari tingkat pertambahan penduduk dan perubahan populasi tentang model transisi demografi. Model transisi demografi melihat bagaimana perubahan populasi dalam empat tahap. 

Tahap ini dimulai dari angka kelahiran dan kematian tinggi. Tahap kedua menampilkan tingkat kelahiran tinggi dan kematian yang menurun. 

Tahap ketiga menunjukkan tingkat kelahiran turun sementara tingkat kematian stabil di angka rendah. Tahap adalah tahap stabilisasi angka kelahiran dan kematian.

Grafik Populasi
Selain mempelajari jumla penduduk di berbagai belahan bumi, geografi populasi juga sering menggambarkan grafik piramida penduduk. Grafik piramida penduduk menggambarkan jumlah pria dan wanita pada kelompok usia tertentu. 

Negara berkembang punya piramida yang lebar di bawah dan puncak sempit menunjukkan angka kelahiran tinggi dan kematian tinggi sementara negara maju memiliki lebar dasar yang sempit dan puncak yang sedang, menunjukkan kelahiran dan kematian relatif stabil. 

Ada pula negara dengan bentuk piramida terbalik, artinya kelahiran rendah dan kematian sangat rendah (pertumbuhan minus) seperti Jepang.

Pendataan Populasi
Salah satu hal penting dalam mempelajari populasi ada ketersediaan data pendukung. Sebagian besar negara melakukan sensus nasional setiap sepuluh tahun. Sensus akan berisi informasi seputar perumahan, status ekonomi, jenis kelamin, usia dan pendidikan. 

Selain sensus ada juga pendataan lains seperti registrasi kelahiran, kematian dan perceraian. Data-data tersebut berguna untuk menjadikan dasar pembuatan kebijakan kependudukan suatu negara.

Selasa, Februari 20

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif dan Disosiatif dan Artinya

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif dan Disosiatif dan Artinya

Interaksi sosial merupakan salah satu ciri dari kehidupan manusia. Ada banyak sekali bentuk-bentuk interaksi sosial dalam masyarakat. 

Manusia tidak bisa hidup sendiri karena pada dasarnya kita adalah mahluk sosial. Berikut ini contoh-contoh interaksi sosial.
a. Interaksi Sosial Asosiatif
Interaksi sosial secara asosiatif memiliki sifat positif, artinya proses interaksi sosial yang cenderung  menjalin kesatuan dan meningkatkan solidaritas anggota kelompok. Proses asosiatif memiliki bentuk-bentuk antara lain sebagai berikut

1) Kerja Sama (Cooperation)
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antarindividu ataupun kelompok untuk mencapai kepentingan dan tujuan yang serupa, serta menyadarinya bermanfaat untuk dirinya atau orang lain. 

Kerja sama akan bertambah kuat jika terdapat bahaya bahaya dari luar dan juga tindakan-tindak luar yang menyinggung kesetiaan yang telah tertanam dalam kelompok, dalam diri seseorang, atau segolongan orang-orang. 

Contohnya, kerja sama antara prajurit dalam satu kesatuan terjalin ketika menghadapi musuh dalam sebuah medan pertempuran. 

Proses sosial erat kaitannya dengan kerja sama ialah konsensus. Konsensus terjadi kalau dua pihak atau lebih ingin memelihara adanya hubungan dan masing-masing memandang sebagai kepentingan sendiri. 

Dalam mengadakan konsensul dapat muncul jika anggota kelompok mempunyai perbedaan pendapat. Dalam konsensus, pertentangan kepentingan terlihat nyata, tetapi tidak sebesar di konflik. 

Bentuk-Bentuk Kerja Sama - Berdasarkan pelaksanaannya, kerja sama memiliki bentuk-bentuk antara lain lain sebagai berikut

a) Kerukunan atau gotong royong ialah bentuk kerja sama yang dilakukan secara sukarela demi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tertentu yang berkaitan langsung dengan orang-orang yang terlibat dalam gotong royong.
b) Bargaining, yaitu kegiatan perjanjian pertukaran barang ataupun jasa dua organisasi ataupun lebih
c) Kooptasi, yaitu prosedur penerimaan unsur-unsur baru di kepemimpinan dan pelaksanaan ketatanegaraan organisasi sebagai satu-satunya tips untuk menghindari adanya konflik yang dapat mengguncang organisasi
d) Koalisi, adalah kombinasi yang dilakukan dari dua organisasi atau lebih yang memiliki tujuan yang sama. Koalisi menghasilkan keadaan dengan tidak stabil karena ke-2 organisasi memiliki struktur tersendiri.
e) Joint-venture, adalah bentuk kerja sama dalam perusahaan proyek khusus, seperti pengeboran minyak dan juga perhotelan.

2) Akomodasi (accomodation)
Akomodasi adalah suatu proses penyesuaian diri individu atau kelompok manusia dengan semula saling bertentangan untuk upaya mengatasi ketegangan. Akomodasi berarti adanya keseimbangan interaksi sosial dengan norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. 

Akomodasi seringkali merupakan cara untuk menyelesaikan pertentangan, entah dengan cara menghargai kepribadian yang berkonflik ataupun paksaan (tekanan).  

Bentuk-Bentuk Akomodasi - Akomodasi sebagai proes mempunyai beberapa bentuk antara lain sebagai berikut

a) Koersi adalah bentuk dari akomodasi yang berlangsung karena paksaan kehendak suatu pihak terhadap pihak lain yang lemah dengan didominasi suatu kelompok atas kelompok lain. Contohnya sistem rezim (pemerintahan) totaliter.
b) Kompromi adalah bentuk dari akomodasi yng pihak-pihak terlibat perselisihan saling meredakan tuntutan sehingga tercapai suatu penyelesaian. Sikap dasar kompromi adalah semua pihak bersedia merasakan dan memahami keadaan pihak lain. Contohnya: perjanjian gencatan senajata antara kedua negara yang sedang terlibat perang.
c) Arbitrase adalah bentuk akomodasi yang terjadi apabila terdapat pihak-pihak yang berselisih tidak sanggup mencapai kompromi sendiri. Maka dari itu diundanglah kelompok ketiga yang tidak berat sebelah (netral) untuk mengusahakan penyelesaian. Pihak ketiga tersebut berasal dari badan yang berwenang. Contohnya: penyelesaian pertentangan antara pengusaha dan serikat buruh diselesaikan melalui arbitrase (pihak ketiga yang netral).
d) Mediasi adalah pihak ketiga untuk penengah atau juru damai. Keputusan berdamai tergantung pihak-pihak yang betikai. Contohnya: mediasi pemerintah Republik Indonesia untuk mendamaikan faksi-faksi yang bersilih di kamboja.
e) Konsiliasi ialah upaya mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih untuk tercapainya suat persetujuan bersama. Konsiliasi bersifat lebih lunak dan membuka kesempatan mengadakan asimilasi. Contohnya, panitia tetap penyelesaian masalah ketenagakerjaan mengundang perusaan dan wakil karyawan untuk menyelesaikan masalah.
f) Toleransi adalah bentuk akomodasi tanpa adanya persetujuan resmi karena tanpa disadari dan direncanakan, adanya keinginan untuk menghindarkan diri dari perselisihan yang saling merugikan.
g) Stalemate adalah bentuk dari akomodasi yang terjadik ketika kelompok terlibat pertentangan dengan kekuatan seimbang. Dengan kesadaran ke-2 belah pihak maka tidak ada yang maju ataupun mundur sehingga pertentangan akan berhenti dengan sendirinya.
Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif dan Disosiatif dan Artinya
Berkomunikasi adalah sarana interkasi sosial
3) Asimilasi (assimilation) 
Asimilasi adalah usaha-usaha untuk meredakan perbedaan antarindividu atau antarkelompok guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Menurut Koentjaraningrat, prosedur asimilasi akan timbul bila ada kelompok-kelompok yang mempunyai perbedaan kebudayaan. Kemudian, individu-individu dalam kelompok tersebut berinteraksi secara langsung secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama, sehingga kebudayaan masing-masing kelompok berubah dan menyesuaikan diri.

Dalam asimilasi penyerapan terjadi proses identifikasi diri dengan kepentingan-kepentingan dan tujuan kelompok. Apabila dua kelompok atau dua orang berbuat asimilasi, maka batas-batas antarkelompok akan hilang dan keduanya melebur menjadi satu kelompok baru. Faktor-Faktor Mempermudah/Mendorong Asimilasi - Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi ialah 
a) Sikap toleransi
b) Kesempatan yang seimbang dalam ekonomi (tiap-tiap individu mendapat kesempatan yang serupa untuk mencapai kedudukan khusus atas dasar kemampuan & jasanya)
c) Sikap menghargai orang-orang asing dan kebudayaannya
d) Tingkahlaku yang terbuka dari golongan penguasa dalam masyarakat
e) Adanya Persamaan pada unsur kebudaaan
f) Perkawinan campuran (amalgamasi)
g) Adanya musuh bersama dari luar.

Faktor-Faktor Penghalang/Penghambat Asimilasi - Sebaliknya, faktor-faktor yang menjadi penghalang terjadinya asimilasi adalah sebagai berikut
a) Terisolasinya kehidupan suatu kelompok tertentu dalam masyarakat. Misalnya, orang indian di Amerika Serikat yang diharuskan bertempat tinggal di wilayah-wilayah khusus (reservation).
b) Kurangnya pengetahuan tentang kebudayaan yang dihadapi
c) Memiliki perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi
d) Terdapat perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lain.
e) Terdapat perbedaan warna kulit atau ciri-ciri badaniah.
f) Terdapat in group feeling yang kuat. Artinya, adanya suatu perasaan yang kuat bahwa individu terikat di dalam kelompok dan kebudayaan kelompok yang bersangkutan
g) Terdapat gangguan golongan minoritas terhadap golongan yang berkuasa. Contoh, perlakuan kasar terhadap orang-orang jepang yang tinggal di Amerika Serika sesudah pangkalan Armada Laut Amerika Serikat Pearl Harbor diserang secara mendadak oleh tentara Jepang pada tahun 1941.
h) Memiliki perbedaan kepentingan dan pertentangan-pertentangan pribadi.

4) Akulturasi (Aculturation)
Akulturasi adalah proses penerimaan dan pengolahan unsur-unsur kebudayaan asing menjadi bagian dari kultur suatu kelompok, tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan asli. 

Akulturasi merupakan hasil dari perpaduan kedua kebudayaan dalam waktu lama. Unsur kebudayaan asing sama-sama diterima oleh kelompok yang berinteraksi, selanjutnya diolah tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan yang asli sebagai penerima.

Kebudayaan Hindu dan kebudayaan Islam bertemu di Indonesia kemudian menciptakan kebudayaan Islam yang bercorak Hindu
Musik Melayu bertemu dengan musik portugis dibawa oleh para penjajah menghasilkan musik keroncong

b. Interaksi Sosial Disosiatif 
Interaksi sosial disosiatif disebut juga dengan oposisi, yang artinya interaksi sosial yang menjurus kepada konflik dan menciptakan kerenggangan dalam berinteraksi. Interaksi sosial disosiatif dibedakan menjadi beberapa bentuk, antara lain sebagai berikut

1) Persaingan (competition) 
Persaingan merupakan proses sosial ketika terdapat ke-2 pihak atau lebih saling berlomba melakukan sesuatu untuk mencapai kemenangan tertentu. Persaingn terjadi jikalau beberapa pihak menginginkan sesuatu dengan jumlah yang terbatas ataupun menjadi pusat perhatian umum. 

Seperti, ribuan remaja bersaing agar masuk jajaran 12 besar penyanyi idola. Persaingan dilakukan atas norma dan nilai yang diakui bersama dan berlaku di masyarakat tersebut. 

Kemungkin kecil, persaingan menggunakan kekerasan ataupun ancaman. Jadi, dapat disebut bahwa persaingan dilakukan dengan sehat atau sportif. Persaingan disertai dengn kekerasan, bahaya, atau keinginan untuk merugikan pihak lain, hal ini dinamakan dengan persaingan tak sehat dan bukan lagi disebut dengan persaingan akan tetapi telah menjurus kepada permusuhan atau persengketaan.

Hasil dari persaingan harus diterima dengan kepala dingin, tanpa dendam sedikit pun. Mulai dari awal, Setiap pihak yang bersaing menyadari akan ada yang menang dan kalah. Macam-Macam Contoh Persaingan - Perhatikan beberapa contoh persaingan berikut ini

a) Contoh persaingan pada bidang ekonomi: persaingan antara produsen barang sejenis dalam merebut pasar yang terbatas
b) Contoh persaingan dalam sesuatu kedudukan: persaingan untuk menduduki jabatan strategis
c) Contoh persaingan dalam hal kebudayaan: persaingan dalam penyebaran ideologi, pendidikan, dan unsur kebudayaan yang lain.
Fungsi Persaingan - Persaingan memiliki beberapa fungsi antara lain sebagai berikut.
a) Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yag sama-sama menuntut dipenuhi, padahal sulit dipenuhi seluruhnya secara serentak. Contohnya, membangun jalan desa atau memperbaiki pos keamanan di permukiman.
b) Menyalurkan kepentingan dan nilai dalam masyarakat, paling utama kepentingan dan nilai dengan menimbulkan konflik. Contohnya, dalam Provinsi Aceh warganya tak boleh berpakaian minim ataupun pendek, mereka harus berpakaian islami.
c) Menyeleksi individu dengan pantas memperoleh kedudukan dan peran yang sesuai secara kemampuannya.

2) Kontravensi 
Kontravensi adalah sikap menentang dengan tersembunyi agar tidak adanya perselisihan (konflik) terbuka. Kontravensi merupakan proses sosial dengan tanda ketidakpastian, keraguan, penolakan, dan penyangkalan dengan tidak diungkapkan secara terbuka. 

Penyebab kontravensi adalah perbedaan pendirian antara kalangan tertentu dan pendirian kalangan lainnya dalam masyarakat ataupun dapat juga pendirian menyeluruh masyarakat.

Macam-Macam Bentuk Kontrakvensi 
a) Kontravensi umum, seperti penolakan, keengganan, protes, perlawanan, gangguan, dan mengancam pihak lawan.
b) Kontravensi sederhana, seperti menyangkal pernyataan orang di depan umum.
c) Kontravensi intensif, seperti penghasutan dan penyebaran desas-desus.
d) Kontravensi rahasia, seperti membocorkan rahasia atau berkhianat.
e) Kontravensi taktis, misalnya mengejutkan kelompok lawan provokasi dan intimidasi.
3) Pertikaian 

3)     Pertikaian
Pertikaian adalah proses sosial sebagai bentuk lanjut dari kontravensi. Dalam pertikaian, perselisihan sudah bersifat terbuka. Pertikaian terjadi karena adanya perbedaan yang semakin tajam antara kalangan tertentu dalam masyarakat. 

Kondisi perbedaan yang semakin tajam mengakibatkan amarah dan rasa benci yang mendorong adanya tindakan untuk melukai, menghancurkan, atau menyerang pihak lain. Jadi, pertikaian muncul apabila individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan atau tujuannya dengan jalan menentang pihak lain lewan ancaman atau kekerasan.

4) Pertentangan atau konflik (conflict) 
Pertentangan atau konflik adalah suatu perjuangan individu atau kelompok sosial untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan. Konflik biasa terjadi dengan disertai ancaman atau kekerasan. 

Konflik terjadi karena adanya perbedaan pendapat, perasaan individu, kebudayaan, kepentingan baik kepentingan individu maupun kelompok, dan terjadinya perubahan-perubahan sosial yang cepat dengan menimbulkan disorganisasi sosial.

Perbedaan-perbedaan ini akan memuncak menjadi pertentangan karena keinginan-keinginan individu tidak dapat diakomodasikan. Akibatnya, tiap individu atau kelom berusaha menghancurkan lawan dengan ancaman atau kekerasan. 

Pertentangan kebanyakan yang berperan adlaam perasaan. Persaan dapat mempertajam adanya perbedaan sehingga kedua pihak berusaha saling menghancurkan. 

Contohnya perasaan yang menimbulkan konflik adalah benci, iri dan sentimen. Pertentangan tidak selalu bersifat negatif. Pertentangan menjadi alat untuk menyesuaikan norma-norma yang telah ada sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Pertentangan juga menghasilkan suatu kerja sama karena kedua pihak saling introspeksi untuk mengadakan perbaikan-perbaikan. Contoh dampak positif pertentangan (konflik) adalah perombakan aturan-aturan yang membatasi hak politik warga negara di masa Orde Baru.

Bentuk-Bentuk Pertentangan - Pertentangan memiliki bentuk-bentuk khusus antara lain sebagai berikut
a) Pertentangan pribadi, adalah individu yang sejak mereka mulai berkenalan sudah tidak slaing menyukai. Awal buruk dikembangkan akan menimbulkan kebencian. Masing-masing pihak akan berusaha menghancurkan pihak lawan. 
b) Pertentangan rasial, adalah pertentangan yang terjadi karena kepentingan kebudayaan. Keadaan bertambah buruk jika terdapat salah satu ras yang menjadi golongan minoritas. 
c) Pertentangan antarkelas sosial, adalah pertentangan yang terjadi karena terdapat perbedaan kepentingan, misalnya perbedaan kepentingan antara majikan dan buruh. 
d) Pertentangan politik. adalah pertentangan yang terjadi antargolongan dalam masyarakat antara negara-negara berdaulat. Contohnya, pertentangan yang terjadi antarpartai poltiik menjelang pemilu atau pertentangan antarnegara. 
e) Pertentangan yang bersifat internasional, adalah pertentangan yang disebabkan oleh kepentingan yng lebih luas menyangkut kepentingan nasional dan kedaulatan masing-masing negara. Jika terdapat pihak yang tak dapat mengendalikan diri, maka akan terjadi peperangan.  

Gambar: disini
Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial Budaya

Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial Budaya

Perubahan adalah suatu hal yang pasti di bumi selai mati. Salah satu bentuk perubahan adalah perubahan sosial. 

Dalam perubahan sosial ini terdapat faktor pendorong dan faktor penghambat. Berikut ini penjelasannya:

a. Faktor-Faktor Pendorong Perubahan
1) Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain
Kontak dengan kebudayaan lain dapat menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. 

Penemuan-penemuan baru tersebut dapat berasal dari kebudayaan asing atau merupakan perpaduan antara budaya asing dengan budaya sendiri. Proses tersebut dapat mendorong pertumbuhan suatu kebudayaan dan memperkaya kebudayaan yang ada.
2) Sistem Pendidikan Formal yang Maju
Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama membuka pikiran dan mem-biasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya dapat memenuhi perkembangan zaman atau tidak.
3) Sikap Menghargai Hasil Karya Orang Lain
Penghargaan terhadap hasil karya seseorang akan mendorong seseorang untuk berkarya lebih baik lagi, sehingga masyarakat akan semakin terpacu untuk menghasilkan karya-karya lain.
4) Toleransi terhadap Perbuatan yang Menyimpang
Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya.Untuk itu, toleransi dapat diberikan agar semakin tercipta hal-hal baru yang kreatif.
5) Sistem Terbuka Masyarakat (Open Stratification)
Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial ertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para indi idu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
6) Heterogenitas Penduduk
Di dalam masyarakat heterogen yang mempunyai latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat dalam upayanya untuk mencapai keselarasan sosial.
7) Orientasi ke Masa Depan
Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.
8) Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Tertentu
Ketidakpuasan yang berlangsung lama di kehidupan masyarakat dapat menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan gerakan revolusi untuk mengubahnya.
9) Nilai Bahwa Manusia Harus Senantiasa Berikhtiar untuk Memperbaiki Hidupnya
Ikhtiar harus selalu dilakukan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.
Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial Budaya
Perubahan sosial budaya adalah hal umum di masa kini
b. Faktor-Faktor Penghambat Perubahan
1) Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain
Kehidupan terasing menyebabkan suatu masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang telah terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola pemikiran dan kehidupan masyarakat menjadi statis
2) Terlambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Kondisi ini dapat dikarenakan kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup, contohnya masyarakat pedalaman. Tapi mungkin juga karena masyarakat itu lama berada di bawah pengaruh masyarakat lain (terjajah).
3) Sikap Masyarakat yang Masih Sangat Tradisional
Sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau dapat membuat terlena dan sulit menerima kemajuan dan perubahan zaman. Lebih parah lagi jika masyarakat yang bersangkutan didominasi oleh golongan konser atif (kolot).
4) Rasa Takut Terjadinya Kegoyahan pada Integritas Kebudayaan
Integrasi kebudayaan seringkali berjalan tidak sempurna, kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menggoyahkan pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada. Beberapa golongan masyarakat berupaya menghindari risiko ini dan tetap mempertahankan diri pada pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada.
5) Adanya Kepentingan-Kepentingan yang Telah Tertanam dengan Kuat (Vested Interest)
Organisasi sosial yang mengenal sistem lapisan strata akan menghambat terjadinya perubahan. Golongan masyarakat yang mempunyai kedudukan lebih tinggi tentunya akan mempertahankan statusnya tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan terhambatnya proses perubahan.
6) Adanya Sikap Tertutup dan Prasangka Terhadap Hal Baru (Asing)
Sikap yang demikian banyak dijumpai dalam masyarakat yang pernah dijajah oleh bangsa lain, misalnya oleh bangsa Barat. Mereka mencurigai semua hal yang berasal dari Barat karena belum bisa melupakan pengalaman pahit selama masa penjajahan, sehingga mereka cenderung menutup diri dari pengaruh-pengaruh asing.
7) Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis
Setiap usaha perubahan pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah, biasanya diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideologi masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi masyarakat tersebut.
8) Adat atau Kebiasaan yang Telah Mengakar
Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Adakalanya adat dan kebiasaan begitu kuatnya sehingga sulit untuk diubah. 

Hal ini merupakan bentuk halangan terhadap perkembangan dan perubahan kebudayaan. Misalnya, memotong padi dengan mesin dapat mempercepat proses pemanenan, namun karena adat dan kebiasaan masyarakat masih banyak yang menggunakan sabit atau ani-ani, maka mesin pemotong padi tidak akan digunakan.
9) Nilai Bahwa Hidup ini pada Hakikatnya
Buruk dan Tidak Mungkin Diperbaiki Pandangan tersebut adalah pandangan pesimistis. Masyarakat cenderung menerima kehidupan apa adanya dengan dalih suatu kehidupan telah diatur oleh Yang Mahakuasa. Pola pikir semacam ini tentu saja tidak akan memacu pekembangan kehidupan manusia.

Gambar: disini

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
Mau info terbaru tentang artikel blog ini?. Like fanspage guru geografi di facebook!.
Done
close