Guru Geografi: Klimatologi | Blog Guru Geografi Milenial
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Klimatologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klimatologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Mei 25

Ciri Iklim Af, Am, Aw di Indonesia

Ciri Iklim Af, Am, Aw di Indonesia

Di Indonesia, tipe iklim Koppen yang dominan sesuai adalah iklim A dengan distribusi Af, Am dan Aw. Meski secara umum Indonesia bertipe iklim tropis namun terdapat perbedaan karakter di tiap masing-masing pulau.

Iklim Af
Iklim Af dalam klasifikasi iklim Koppen adalah iklim tropis basah. Berikut adalah beberapa ciri khas iklim Af:
1. Suhu Tinggi: Iklim Af ditandai dengan suhu yang tinggi sepanjang tahun. Suhu rata-rata bulanan biasanya melebihi 18 derajat Celsius (64,4 derajat Fahrenheit) sepanjang tahun.
2. Curah Hujan Tinggi: Iklim Af memiliki curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, dengan tidak ada musim kering yang jelas. Curah hujan tahunan biasanya melebihi 1.500 mm (59 inci) dan sering kali melebihi 2.000 mm (78,7 inci).
3. Tidak Ada Musim Kering yang Jelas: Salah satu ciri utama iklim Af adalah tidak adanya musim kering yang jelas. Curah hujan merata sepanjang tahun, meskipun ada perbedaan kecil dalam intensitas hujan antara bulan-bulan tertentu.
4. Vegetasi Hutan Hujan: Iklim Af sering dikaitkan dengan hutan hujan tropis. Curah hujan yang tinggi sepanjang tahun mendukung pertumbuhan vegetasi yang lebat dan beragam, termasuk pohon-pohon tinggi, pepohonan, dan tanaman epifit.
5. Kelembaban Tinggi: Iklim Af juga ditandai dengan kelembaban yang tinggi sepanjang tahun. Kehadiran curah hujan yang konstan menghasilkan tingkat kelembaban udara yang tinggi.
6. Sinar Matahari yang Kuat: Daerah dengan iklim Af sering mengalami sinar matahari yang kuat sepanjang tahun, karena mereka terletak di sekitar khatulistiwa atau di dekatnya.
7. Cuaca Tropis: Iklim Af cenderung memiliki cuaca tropis dengan kehadiran awan yang sering, potensi hujan deras, dan angin lembut.

Iklim Af sering ditemukan di beberapa bagian Afrika, seperti bagian tengah dan barat Afrika Tengah, sebagian besar daerah Kongo, bagian selatan dan barat Afrika Barat, bagian timur laut Brasil, dan beberapa wilayah di Pasifik seperti Kepulauan Solomon dan Vanuatu.

Di Indonesia wilayah iklim Af ada di Sumatera, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Iklim Am
Tipe iklim Am dalam klasifikasi iklim Koppen adalah iklim tropis muson. Berikut adalah beberapa ciri khas iklim Am:

1. Suhu Tinggi Sepanjang Tahun: Iklim Am ditandai dengan suhu yang tinggi sepanjang tahun. Suhu rata-rata bulanan biasanya melebihi 18 derajat Celsius (64,4 derajat Fahrenheit) sepanjang tahun.
2. Musim Kemarau dan Musim Hujan yang Jelas: Iklim Am memiliki dua musim yang terlihat dengan jelas, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau biasanya lebih kering, sementara musim hujan memiliki curah hujan yang lebih tinggi.
3. Curah Hujan Tinggi: Meskipun terdapat musim kemarau, iklim Am tetap memiliki curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Curah hujan tahunan biasanya melebihi 1.500 mm (59 inci) dan sering kali melebihi 2.000 mm (78,7 inci).
4. Cuaca Tropis: Iklim Am cenderung memiliki cuaca tropis dengan kehadiran awan yang sering, potensi hujan deras, dan angin lembut. Curah hujan yang tinggi sering terjadi dalam bentuk hujan lebat dan badai petir.
5. Vegetasi Hutan Hujan dan Sabana: Wilayah dengan iklim Am dapat mendukung pertumbuhan hutan hujan tropis yang lebat, terutama pada musim hujan. Namun, di beberapa wilayah dengan iklim Am yang memiliki musim kemarau yang lebih panjang, terdapat vegetasi sabana yang lebih kering dengan rumput tinggi dan pepohonan yang jarang.
6. Kelembaban Tinggi: Iklim Am ditandai dengan kelembaban yang tinggi sepanjang tahun. Kehadiran curah hujan yang konstan dan tingkat kelembaban udara yang tinggi menyebabkan lingkungan yang lembab.
7. Penyimpangan Muson: Iklim Am seringkali terkait dengan pola muson, yaitu perubahan arah angin yang membawa curah hujan pada musim tertentu. Pola muson dapat bervariasi di berbagai wilayah yang memiliki iklim Am.

Iklim Am umumnya ditemukan di beberapa bagian Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika Barat, dan Asia Tenggara. Beberapa contoh daerah dengan iklim Am adalah Pantai Pantai Brazil, Bagian Timur Kosta Rika, Pantai Karibia Kolumbia, dan sebagian besar wilayah Amazon di Amerika Selatan.

Di Indonesia wilayah iklim Am ada di Jawa, Madura, Bali dan sebagian Sulawesi


Iklim Aw
Tipe iklim Aw dalam klasifikasi iklim Koppen adalah iklim tropis muson dengan musim kemarau yang lebih panjang. Berikut adalah beberapa ciri khas iklim Aw:

1. Suhu Tinggi Sepanjang Tahun: Iklim Aw ditandai dengan suhu yang tinggi sepanjang tahun. Suhu rata-rata bulanan biasanya melebihi 18 derajat Celsius (64,4 derajat Fahrenheit) sepanjang tahun.
2. Musim Kemarau yang Panjang: Salah satu ciri utama iklim Aw adalah keberadaan musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan dengan iklim Am. Musim kemarau ini bisa berlangsung selama beberapa bulan hingga setengah tahun. Pada musim kemarau, curah hujan cenderung sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.
3. Musim Hujan yang Terkonsentrasi: Musim hujan dalam iklim Aw biasanya lebih pendek dibandingkan dengan musim kemarau, tetapi curah hujan yang jatuh selama musim hujan cukup signifikan. Hujan sering kali turun dalam hujan lebat dan badai petir yang intens.
4. Vegetasi Savana: Iklim Aw sering dihubungkan dengan vegetasi savana yang khas. Vegetasi savana terdiri dari rumput tinggi yang lebih tahan terhadap musim kemarau, ditambah dengan beberapa pohon yang jarang atau tersebar.
5. Kelembaban yang Tinggi: Iklim Aw cenderung memiliki kelembaban yang tinggi sepanjang tahun, terutama selama musim hujan. Tingkat kelembaban yang tinggi terkait dengan suhu tinggi, curah hujan yang signifikan, dan kehadiran vegetasi yang lebat.
6. Pola Muson yang Terkait: Seperti iklim Am, iklim Aw juga dapat terkait dengan pola muson yang mengalami perubahan arah angin dan membawa curah hujan pada musim tertentu. Pola muson dalam iklim Aw dapat bervariasi tergantung pada lokasi geografis.

Iklim Aw umumnya ditemukan di beberapa bagian Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika Barat, dan Asia Tenggara. Contoh daerah dengan iklim Aw termasuk sebagian besar bagian Pantai Teluk Meksiko, sebagian besar wilayah Brasil, Kepulauan Karibia, dan wilayah Sudan Selatan dan Kenya di Afrika.

Di Indonesia iklim Aw ada di wilayah Nusa Tenggara, Jawa Timur di bagian ujung timur (TN Baluran dan Alas Purwo) dan Pulau Timor.

Distribusi Klasifikasi Iklim Koppen dan Ciri-Cirinya

Distribusi Klasifikasi Iklim Koppen dan Ciri-Cirinya


Klasifikasi iklim Koppen, juga dikenal sebagai Klasifikasi Iklim Koppen-Geiger, adalah suatu sistem klasifikasi iklim yang paling banyak digunakan secara global. Sistem ini dikembangkan oleh ahli meteorologi Jerman, Wladimir Koppen, pada awal abad ke-20, dan kemudian diperbarui oleh Rudolf Geiger.

Klasifikasi iklim Koppen menggabungkan berbagai faktor iklim utama, seperti suhu dan curah hujan, untuk menggambarkan pola iklim di berbagai wilayah di dunia. Sistem ini didasarkan pada pengamatan suhu bulanan dan curah hujan tahunan, dan mengklasifikasikan iklim menjadi berbagai jenis berdasarkan variabel-variabel tersebut.

Sistem klasifikasi iklim Köppen mengkategorikan zona iklim di seluruh dunia berdasarkan vegetasi lokal. Wladimir Köppen, seorang ahli botani dan klimatologi Jerman, pertama kali mengembangkan sistem ini pada akhir abad ke-19, dengan mendasarkannya pada penelitian bioma sebelumnya yang dilakukan oleh para ilmuwan. 

Para ilmuwan ini mengetahui bahwa vegetasi dan iklim memiliki hubungan yang sangat erat. Vegetasi yang tumbuh di suatu wilayah bergantung pada suhu dan curah hujan di sana, yang merupakan dua faktor kunci dari iklim. Daerah dengan curah hujan lebih banyak dan suhu yang lebih tinggi memiliki lebih banyak hutan, sementara daerah dengan curah hujan lebih sedikit cenderung menjadi gurun. Sistem klasifikasi iklim Köppen telah disempurnakan dan dimodifikasi beberapa kali sejak pertama kali diterbitkan.

Berikut adalah beberapa kategori iklim utama dalam klasifikasi iklim Koppen:

1. Iklim Tropis (Af): Iklim tropis terjadi di wilayah-wilayah di sekitar khatulistiwa. Iklim ini umumnya memiliki suhu tinggi sepanjang tahun dan curah hujan yang melimpah sepanjang tahun.

2. Iklim Subtropis (Cfa, Cwa, Csa): Iklim subtropis terjadi di wilayah-wilayah di dekat garis lintang 30 derajat hingga 40 derajat. Iklim ini ditandai dengan musim panas yang panas dan lembab, serta musim dingin yang relatif hangat.

3. Iklim Sedang (Cfb, Cwb, Csb): Iklim sedang terjadi di wilayah-wilayah di antara garis lintang 40 derajat hingga 60 derajat. Iklim ini memiliki musim panas yang hangat dan musim dingin yang dingin, dengan curah hujan yang cukup merata sepanjang tahun.

4. Iklim Benua (Dfa, Dwa, Dfb, Dwb): Iklim benua terjadi di wilayah-wilayah di tengah-tengah benua. Iklim ini ditandai dengan musim panas yang hangat atau panas, dan musim dingin yang sangat dingin, dengan variasi curah hujan yang signifikan antara musim.

5. Iklim Kutub (ET, EF): Iklim kutub terjadi di wilayah-wilayah dekat kutub. Iklim ini ditandai dengan suhu rendah sepanjang tahun, dengan musim panas yang pendek dan dingin yang ekstrem.

6. Iklim Gurun (BWh, BWk): Iklim gurun terjadi di wilayah-wilayah kering dengan curah hujan yang sangat sedikit. Iklim ini ditandai dengan suhu yang sangat tinggi di siang hari dan suhu yang rendah di malam hari.

Sementara itu di Indonesia sendiri, tipe Iklim Koppen yang sesuai dalah Iklim A dengan sub iklim Af, Am dan Aw. Baca selanjutnya: Iklim Koppen di Indonesia

Gambar: Pixabay

Sabtu, Maret 25

Terbentuknya Siklon Ekstratropis dan Lokasi Sebarannya

Terbentuknya Siklon Ekstratropis dan Lokasi Sebarannya

Siklon ekstratropis atau juga dikenal sebagai siklon lintang tengah atau siklon frontal, adalah jenis sistem cuaca bertekanan rendah yang biasanya terbentuk di luar daerah tropis, biasanya di lintang tengah atau lintang tinggi (sekitar 30⁰-60⁰) baik LU dan LS. 

Siklon ekstratropis sering dikaitkan dengan pola cuaca berskala besar, seperti aliran jet, dan bertanggung jawab atas banyak perubahan cuaca yang terjadi di wilayah lintang tengah.

Siklon ekstratropis dicirikan oleh adanya pusat tekanan rendah yang berputar, atau siklon, yang biasanya berdiameter beberapa ratus kilometer. Tekanan rendah di pusat siklon menyebabkan udara mengalir ke dalam dan ke atas, yang mengarah ke pembentukan awan dan curah hujan. 

Di Belahan Bumi Utara, udara mengalir berlawanan arah jarum jam di sekitar pusat siklon, sedangkan di Belahan Bumi Selatan, udara mengalir searah jarum jam.

Peta di atas menunjukkan lokasi terbentuknya siklon tropis (panah hijau) dan siklon ekstratropis (warna hitam).

Siklon ekstratropis biasanya dikaitkan dengan front, yang merupakan batas antara massa udara dengan suhu dan kadar air yang berbeda. Ada dua jenis front utama: front dingin dan front hangat. Bagian depan yang dingin berhubungan dengan udara yang lebih dingin dan kering dan sering kali membawa penurunan suhu yang tajam, sedangkan bagian depan yang hangat berhubungan dengan udara yang lebih hangat dan lebih lembab dan sering kali membawa awan dan curah hujan.

Siklon ekstratropis dapat berdampak signifikan pada cuaca dan iklim, termasuk angin kencang, hujan lebat atau salju, badai petir, dan bahkan tornado. Badai ini juga dapat menimbulkan dampak ekologi dan ekonomi yang penting, seperti kerusakan tanaman, banjir, dan gangguan transportasi.

Siklon ekstratropis berbeda dengan siklon tropis, yang merupakan sistem cuaca bertekanan rendah yang terbentuk di atas perairan laut yang hangat dan ditandai dengan angin kencang dan hujan lebat. Siklon tropis juga dikenal dengan nama yang berbeda tergantung lokasinya, termasuk badai, topan, dan siklon.

Rabu, Januari 25

Parameter Statistik Mengukur Perubahan Iklim

Parameter Statistik Mengukur Perubahan Iklim


Perubahan iklim adalah fenomena nyata yang terjadi karena berbagai faktor terutama meningkatnya global warming.

Intensitas kegiatan manusia selama ribuan tahun ini membuat kadar gas rumah kaca meningkat waktu ke waktu dan mengubah sistem iklim.

Berikut ini beberapa parameter statistik yang digunakan untuk mengukur perubahan iklim.

Suhu rata-rata: Suhu rata-rata di seluruh dunia telah meningkat selama beberapa dekade terakhir, yang dapat dilihat dari data historis suhu rata-rata.

Curah hujan: Perubahan curah hujan dapat dilacak dengan menganalisis data curah hujan historis, yang dapat menunjukkan perubahan dalam frekuensi dan intensitas hujan.

Kelembaban: Kelembaban relatif dapat dilacak dengan menganalisis data kelembaban relatif historis, yang dapat menunjukkan perubahan dalam tingkat kelembaban di suatu wilayah.

Angin: Kecepatan dan arah angin dapat dilacak dengan menganalisis data historis angin, yang dapat menunjukkan perubahan dalam tingkat kecepatan dan arah angin.

Es: Perubahan dalam jumlah es di daerah-daerah seperti Kutub Utara dan Selatan dapat dilacak dengan menganalisis data historis jumlah es.

Lautan: Perubahan dalam tinggi permukaan laut dan suhu laut dapat dilacak dengan menganalisis data historis tinggi permukaan laut dan suhu laut.

Keberlangsungan hidup: Perubahan dalam tingkat keberlangsungan hidup spesies dapat dilacak dengan menganalisis data historis tingkat keberlangsungan hidup spesies.

Perubahan tipe cuaca ekstrem : seperti kekeringan, banjir, badai, dan lainnya dapat dilacak dengan menganalisis data historis peristiwa cuaca ekstrem.

Semua parameter ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi perubahan iklim yang terjadi dan dapat digunakan untuk membuat proyeksi iklim di masa depan. Namun perlu diingat bahwa analisis data harus dilakukan oleh ahli iklim dan dilakukan dengan metode yang benar untuk mendapatkan hasil yang valid dan dapat dipercaya.

Gambar: wikipedia.

Rabu, Januari 18

Pembagian Iklim Koppen Menurut Curah Hujan dan Suhu

Pembagian Iklim Koppen Menurut Curah Hujan dan Suhu

Klasifikasi iklim Koppen adalah salah satu sistem klasifikasi iklim yang masih digunakan luas hingga saat ini. Sistem klasifikasi iklim Köppen mengkategorikan zona iklim di seluruh dunia berdasarkan vegetasi lokal. 

Wladimir Köppen, seorang ahli botani dan klimatologi Jerman, pertama kali mengembangkan sistem ini pada akhir abad ke-19, mendasarkannya pada penelitian bioma sebelumnya yang dilakukan oleh para ilmuwan. Para ilmuwan ini belajar bahwa vegetasi dan iklim saling terkait secara rumit. 

Vegetasi yang hidup di suatu wilayah tergantung pada kondisi suhu dan curah hujan di wilayah tersebut. Daerah dengan curah hujan yang lebih banyak dan suhu yang lebih tinggi memiliki lebih banyak hutan, sementara daerah dengan curah hujan yang lebih sedikit cenderung menjadi gurun. Sistem klasifikasi iklim Köppen telah disempurnakan dan dimodifikasi beberapa kali sejak pertama kali diterbitkan.

Pembagian iklim Koppen terdistribusi ke dalam lima zona iklim berdasarkan kriteria biasanya suhu, yang memungkinkan pertumbuhan vegetasi yang berbeda. Peta Köppen menggunakan warna dan corak yang berbeda untuk mewakili zona iklim dunia yang berbeda. 

Sementara sebagian besar zona disusun berdasarkan suhu suatu wilayah, Zona B berfokus pada wilayah kering suatu wilayah. Zona-zona tersebut adalah sebagai berikut:
Zona A: zona tropis atau khatulistiwa (diwakili oleh warna biru pada sebagian besar peta)
Zona B: zona kering atau gersang (diwakili oleh warna merah, merah muda, dan oranye pada sebagian besar peta)
Zona C: zona beriklim hangat/ringan (diwakili oleh warna hijau pada sebagian besar peta)
Zona D: zona kontinental (diwakili oleh warna ungu, ungu, dan biru muda pada sebagian besar peta)
Zona E: zona kutub (diwakili oleh warna abu-abu pada sebagian besar peta)

Tiap zona dibagi lagi berdasarkan suhu atau kekeringan. 
1. Zona A memiliki tiga subdivisi: Zona Af tidak memiliki musim kemarau dan curah hujan relatif tinggi, Zona Am memiliki musim kemarau pendek, dan Zona Aw memiliki musim kemarau musim dingin. 
2. Zona B dibagi ke dalam kategori-kategori yang terkait dengan daerah-daerah seperti gurun yang panas dan gersang (Zona BWh); gurun yang dingin dan gersang (Zona BWk); stepa yang panas dan gersang (Zona BSh); dan stepa yang dingin dan gersang (Zona BSk). 
3. Zona iklim C dan D dipecah menjadi beberapa kategori berdasarkan kapan musim kering terjadi di zona tersebut, serta dinginnya musim panas atau hangatnya musim dingin. 
4. Zona iklim E dipisahkan menjadi daerah tundra (Zona ET) atau daerah salju dan es (Zona EF). 

Selain itu, beberapa revisi modern pada sistem ini mencakup wilayah keenam, yang dikenal sebagai Zona H. Ini mewakili iklim dataran tinggi yang terletak di ketinggian pegunungan.

Peta klasifikasi Köppen masih digunakan oleh para ilmuwan dan ahli iklim hingga saat ini. Meskipun ia menerbitkan peta pertamanya pada awal 1900-an, Köppen terus memperbaruinya sampai kematiannya pada tahun 1940. Para ahli klimatologi berikutnya, termasuk Rudolf Geiger, memperbarui versi peta ini, yang sering kali menyertakan nama Geiger juga. Pada saat penulisan, revisi terbaru untuk peta ini diterbitkan pada tahun 2018.

Gambar:
https://lotusarise.com/wp-content/uploads/2020/11/Koppen-Climate-Classification-System-1.jpg

Rabu, April 13

Apa itu Grafik Iklim atau Klimograf?

Apa itu Grafik Iklim atau Klimograf?

Klimograf adalah grafik yang mewakili kondisi iklim suatu lokasi tertentu dan suhu rata-rata serta curah hujan di daerah itu. Jadi klimograf itu menggambarkan kondisi klimatik wilayah seperti misalnya wilayah bioma.

Kita bisa menggambarkan kondisi fisik wilayah permukaan bumi dengan melihat fitur iklim seperti suhu dan curah hujannya dari waktu ke waktu.

Klimograf atau grafik iklim adalah grafik berbasis waktu yang menyajikan rata-rata suhu dan curah hujan pada suatu wilayah. Skala waktu biasanya dibuat dalam sumbu horizontal dengan satu tahun dibagi menjadi beberapa bulan.

Untuk curah hujan diwakili sisi sumbu vertikal dan sisi lain grafik menggambarkan kondisi suhu. Beberapa klimograf tidak bergantung pada skala vertikal yang jelas dan hanya menggunakan diagram batang dan angka untuk menunjukan curah hujan dan rentang suhu dari suatu lokasi untuk periode tertentu.

Anda mungkin berfikir bagaimana hanya dengan melihat suhu dan curah hujan, orang bisa tahu vegetasi, hewan dan gaya hidup penduduk di wilayah tersebut?.

Meskipun tidak detail namun dengan melihat kondisi cuaca dalam setahun maka sudah bisa dijadikan petunjuk mengenai kondisi fisiografis wilayah tersebut.

Kondisi cuaca dan iklim pada suatu wilayah dipengaruhi berbagai faktor seperti lintang, relief, jarak ke laut, topografi, awan dan lainnya.

Klimograf adalah suatu diagram sederhana yang dapat membantu kita menganalisis sederhana mengenai kondisi cuaca iklim suatu wilayah. Biasanya kita bisa membuat korelasi bioma dengan data klimograf ini.

Setiap bioma memiliki kondisi iklim spesifik sehingga grafik curah hujan dan suhu akan berbeda. Simak beberapa contoh klimograf bioma di bawah ini. 

Di soal OSN Geografi saat ini sudah mulai banyak grafik klimograf muncul jadi harus sering mencari grafik bioma lain di search engine.
Grafik Klimograf Bioma

Selasa, Januari 19

Klasifikasi Pembagian Iklim Berbagai Ahli

Klasifikasi Pembagian Iklim Berbagai Ahli

Fenomena cuaca dan iklim sering kita jumpai sehari-hari mulai dari hujan, petir, awan, angin dan lain sebagainya.

Kehidupan manusia tidak terlepas dari perubahan atau dinamika yang terjadi terkait atmosfer khususnya cuaca dan iklim.

Iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer dalam jangka waktu lama dan meliputi wilayah luas. Iklim dapat diklasifikasikan menurut berbagai kriteria.

Beberapa ahli telah mencoba membuat klasifikasi iklim berdasarkan hasil penelitiannya. Berikut ulasan lengkapnya.

1. Iklim Matahari
Klasifikasi iklim matahari dibagi berdasarkan posisi letak astronomis suatu wilayah sehingga mempengaruhi intensitas penyinaran matahari. Negara di daerah tropis cenderung menerima intensitas penyinaran yang tinggi dibanding daerah subtropis dan kutub.
 
Iklim matahari

a. Iklim tropis terletak pada wilayah lintang 0⁰ - 23,5⁰ LU/LS. Negara beriklim tropis diantaranya Indonesia, Brazil, Kongo, Ekuador, Papua Nugini.
b. Iklim subtropis terletak pada wilayah lintang 23,5⁰ - 40⁰ LU/LS. Negara beriklim subtropis diantaranya Meksiko, Cina, Turki, Mesir, Maroko, Arab Saudi.
c. Iklim sedang terletak pada lintang 40⁰ - 66⁰ LU/LS. Negara beriklim sedang diantaranya Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Inggris, Perancis, Belanda.
d. Iklim kutub terletak pada lintang 66⁰ - 90⁰ LU/LS. Negara beriklim kutub diantaraya Greenland dan Islandia.

2. Iklim Junghuhn
F.W junghuhn adalah seorang ahli botani Jerman yang pernah singgah di Indonesia dan mencoba meneliti kaitan ketinggian tempat dengan vegetasi budidaya masyarakat di Jawa Barat dan Sumatera. Berikut tabel klasifikasi iklim Junghuhn.
 
Iklim Junghuhn

3. Iklim Schmidt-Ferguson
Schmidt-Ferguson membagi iklim berdasarkan rata-rata bulan kering dan bulan basah (nilai Q). Nilai Q dihitung dengan rumus berikut:
a. Bulan basah memiliki curah hujan rata-rata > 100 mm 
b. Bulan kering memiliki curah hujan rata-rata < 60 mm 

Tabel klasifikasi iklim Schmidt Ferguson adalah sebagai berikut:
4. Iklim Oldeman
Klasifikasi iklim Oldeman pada dasarnya memiliki indikator yang hampit sama dengan Schmidt-Ferguson. Perbedaannya hanya pada penentuan bulan kering dan bulan basah. 

a. Bulan basah jka curah hujan > 200 mmm
b. Bulan kering jika  curah hujan < 100 mm

Klasifikasi Oldeman cocok untuk penentuan kegiatan pertanian karena dapat melihat urutan bulan basah berturut-turut pada suatu wilayah. Berikut ini tabel klasifikasi iklim Oldeman.

a. Iklim A jika ada lebih dari 9 bulan basah berturut-turut.
b. Iklim B jika ada 7-9 bulan basah berturut-turut.
c. Iklim C jika terdapat 5-6 bulan basah berturut-turut.
d. Iklim D jika terdapat 3-4 bulan basah berturut-turut.
e. Iklim E jika terdapat kurang dari 3 bulan basah berturut-turut.

5. Iklim Koppen
Koppen mengklasifikasikan iklim menurut indikator suhu dan curah hujan. Koppen menggolongan iklim menggunakan kode huruf sebagai berikut:

a. Iklim tipe A (hutan hujan)
b. Iklim tipe B (iklim kering)
c. Iklim tipe C (iklim sedang)
d. Iklim tipe D (iklim salju)
e. Iklim tipe E (iklim kutub)


6. Iklim Fisik
Pembagian iklim menurut kondisi fisik wilayah adalah sebagai berikut:
a. Iklim daratan memiliki curah hujan rendah dan dipengaruhi oleh angin darat yang kering.
b. Iklim gurun dicrikan dengan amplitudo suhu harian tinggi dan banyak ditemukan oase dan wadi.
c. Iklim laut terdapat di wilayah tropis dan subtropis dengan curah hujan tinggi dan dipengaruhi sirkluasi angin laut.
d. Iklim dataran tinggi dicirikan dengan tekanan udara dan kelembaban rendah dan jarang turun hujan.
e. Iklim pegunungan dicrikan dengan curah hujan relatif tinggi, basah dan banyak hujan orografis.

Jumat, Maret 20

Dampak Efek Rumah Kaca Terhadap Kerusakan Ozon

Dampak Efek Rumah Kaca Terhadap Kerusakan Ozon

Gejala naiknya suhu permukaan bumi atau perubahan iklim karena peningkatan intensitas efek rumah kaca, lazim disebut pemanasan global. 

Kegiatan manusia yang menimbulkan pemanasan global, antara lain, pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam, serta pembukaan lahan. 

Sebagian besar pembakaran berasal dari asap mobil, pabrik, dan pembangkit tenaga listrik. 

Pembakaran minyak fosil ini menghasilkan karbondioksida, yakni gas rumah kaca yang menghambat radiasi panas ke ruang angkasa. 

Pohon-pohon dan berbagai tanaman, secara alami, memang menyerap karbondioksida dari udara selama proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan. 

Sayangnya, pembukaan lahan dengan menebangi pohon-pohon telah meningkatkan jumlah karbondioksida karena menurunkan penyerapan oleh tumbuhan.

 Sementara itu, dekomposisi dari tumbuhan yang telah mati turut pula meningkatkan jumlah karbondioksida.

Pemanasan global yang terus menerus berlanjut dapat menimbulkan berbagai kerusakan. Hewan dan tumbuhan yang hidup di dalam laut menjadi terganggu. Sementara hewan di daratan terdorong untuk berpindah ke habitat yang baru. 

Pola cuaca berubah drastis sehingga menyebabkan timbulnya banjir besar, kekeringan, angin kencang, dan badai dahsyat. 

Mencairnya es di kutub mengakibatkan peningkatan tinggi permukaan air laut. Penyakit-penyakit menyerang manusia secara meluas dan terjadi penurunan hasil panen pada beberapa wilayah.

Ada beberapa konsep yang berkaitan dengan perubahan iklim dan pemanasan global, yakni :
a) Efek rumah kaca (greenhouse effect)

Istilah efek rumah kaca berasal dari pengalaman para petani di daerah yang menanam sayur mayur dan bunga-bungaan di dalam rumah kaca, yaitu rumah dengan dinding dan atapnya terbuat dari kaca. 

Di dalam rumah kaca dapat dipasang alat pemanas sehingga ruangan di dalam rumah kaca bisa dipanaskan pada waktu yang diperlukan. Misalnya, pada malam hari, musim gugur, musim dingin, dan musim semi.

Pada waktu cuaca cerah tanpa alat pemanas pun, suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi daripada di luarnya. Ini disebabkan karena cahaya matahari dapat menembus kaca dan dipantulkan kembali oleh benda-benda di dalam ruangan rumah kaca sebagai gelombang panas berupa sinar inframerah. 

Efek rumah kaca yang kita alami, misalnya :
a) Ruangan rumah yang berjendela kaca besar terkena sinar matahari.
b) Mobil dengan jendela yang tertutup di parkir di tempat panas. 


Lapisan terendah atmosfer (troposfer) merupakan tempat terjadinya efek rumah kaca. Menurut hukum fisika, penjang gelombang sinar yang dipancarkan sebuah benda tergantung pada suhu benda tersebut. 

Semakin tinggi suhunya, semakin pendek gelombangnya.Matahari dengan suhunya yang tinggi memancarkan sinar dengan gelombang yang pendek. Radiasi matahari yang berwarna putih, terdiri dari warna ungu, indigo, biru, hijau, kuning, oranye, dan merah. 

Sinar ungu mempunyai panjang gelombang terpendek. Merah mempunyai panjang gelombang terpanjang.

Matahari juga memancarkan sinar yang tak kasat mata, yaitu sinar Y, sinar X, serta ultraviolet (UV) dengan panjang gelombang yang lebih pendek daripada ungu; dan inframerah dengan panjang gelombang yang lebih panjang daripada merah. Sinar inframerah merupakan sinar panas.
Efek rumah kaca berlebihan memicu global warming
Telah dijelaskan bahwa di dalam atmosfer terdapat berbagai jenis gas yang terdiri atas lebih dari satu atom, antara lain, uap air, dan sebagainya. 

Dengan adanya gas-gas itu, sebagian sinar inframerah terserap oleh atmosfer sehingga tidak terlepas ke angkasa luar. 

Panas itu terperangkap di dalam lapisan troposfer. Oleh karena itu, suhu troposfer dan permukaan bumi naik, maka terjadilah efek rumah kaca. Gas yang menyerap sinar inframerah itu disebut gas rumah kaca.

b) Kerusakan ozon

Ozon terbentuk secara alamiah di lapisan atas stratosfer, yaitu stratopause (batas lapisan stratosfer dengan mesosfer). 

Pembentukan ozon di lapisan tersebut merupakan mekanisme perlindungan bumi terhadap sinar ultraviolet matahari. Di troposfer, ozon terbentuk melalui proses fotokimia.
 

Selain akibat gas rumah kaca, kerusakan ozon di troposfer disebabkan oleh paparan berbagai zat perusak dari aktivitas manusia. Hal dimaksud pada akhirnya dapat mengganggu kesehatan manusia.

Dampak pemanasan global dapat menyebabkan :
a) Perubahan iklim dan vegetasi yang disebabkan oleh pemanasan global akan mengakibatkan daerah tropis bertambah luas, sedangkan daerah boreal (dingin) berkurang. Vegetasi tundra akan hilang, hutan akan hilang atau berkurang, sedangkan padang rumput dan gurun bertambah luas.


b) Pemanasan global juga dikhawatirkan akan menyebabkan kenaikan permukaan laut yang disebabkan beberapa hal, misalnya sebagai berikut :
1. Karena kenaikan suhu air laut, permukaan akan memuai, volume air laut bertambah;
2. Kenaikan suhu akan menyebabkan melelehnya sebagian dari es abadi yang terdapat di Benua Antartika (Kutub Selatan), Laut Arktik (Kutub Utara), serta es di pegunungan tinggi sehingga menambah volume air laut dan menaikkan permukaan laut;
3. Dapat pula terjadi massa es di Antartika Barat akan lepas dan ambruk ke dalam laut, sehingga menyebabkan kenaikan permukaan laut.


Baca juga: Sebab cuaca dingin di Dieng

Kamis, November 21

5 Komponen Sistem Iklim dan Interaksinya

5 Komponen Sistem Iklim dan Interaksinya

Geografer sebangsa se tanah air, kali ini kita akan sedikit membahas tentang bab meteorologi dan klimatologi ya!. 

Kalian tentu sudah tahu tentang apa itu iklim?. Iklim adalah suatu keadaan atmosfer dalam jangka waktu lama, biasanya dihitung rata-rata dalam 30 tahun minimal.

Nah sebetulnya apa aja sih yang membangun sistem iklim di Bumi ini?. Mengapa kalau dulu waktu kita kecil, musim sangat jelas dan bisa diprediksi sementara sekarang kayaknya sudah sulit dan banyak anomali-anomali atmosfer. Ada apakah gerangan di sistem iklim bumi kita, adakah yang berubah?

Sistem iklim adalah sebuah sistem kompleks yang terdiri dari 5 komponen utama yaitu atmosfer, hidrosfer, kriosfer, litosfer, biosfer serta interaksi diantara semua komponen tersebut. 

Sistem iklim berkembang seiring berjalannya waktu dibawah pengaruh dinamika internalnya sendiri dan faktor eksternal seperti erupsi gunung api, variasi panas matahari, hasil antropogenik seperti perubahan atmosfer karena perubahan tata guna lahan.
5 Komponen Sistem Iklim dan Interaksinya
Sistem Iklim Bumi
1. Atmosfer
Merupakan lapisan udara yang merupakan rumah berbagai macam gas dan tempat terjadinya gejala-gejala cuaca dan iklim. Cuaca iklim lebih intens terjadi di troposfer. Lapisan udara bumi melindungi bumi dari ancaman benda asing yang jatuh. Berbagai kejadian seperti angin, hujan, tornado, jetstream terjadi di atmosfer.

2. Hidrosfer

Komponen sistem iklim ini terdiri dari air permukaan dan air bawah tanah seperti lautan, laut, sungai, danau, air bawah tanah, air dalam batang pohon dan lainnya. Air senantiasa mengalami siklus yang teratur dari mulai evaporasi, kondensasi, presipitasi, infiltrasi, run off sampai perkolasi.

3. Biosfer
Biosfer adalah sistem Bumi yang tersusun atas semua ekosistem dan organisme hidup termasuk bahan organik yang mati seperti bangkai, bahan organik tanah dan detritus samudera.

4. Kriosfer
Kriosfer adalah wilayah di permukaan bumi maupun di lautan dimana air berada dalam bentuk padat termasuk es, es danau, es sungai, tutupan salju, gletser, permafrost dan lainnya.
5. Litosfer
Litosfer marupakan bagian Bumi yang padat baik benua dan samudera yang tersusun atas batuan kerak dan dingin. Litosfer berasal dari pembekuan magma di lapisan matel bumi. 

Selasa, Desember 5

Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E

Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E

Sebelum saya menjelaskan tentang klasifikasi iklim Koppen, saya akan berikan penjelasan dulu tentang definisi iklim. Iklim adalah agregat kondisi cuaca untuk satu daerah dalam jangka waktu lama. 

Sistem iklim di Bumi melibatkan pertukaran energi dan uap air yang terjadi antara atmosfer, hidrosfer dan kriosfer (es dan salju). Baca juga: Permafrost, tanah beku di iklim dingin

Klasifikasi iklim membutuhkan informasi alias data yang sangat banyak diantaranya adalah suhu dan presipitasi. Klasifikasi Koppen menggunakan nilai suhu dan presipitasi rata-rata bulanan dan tahunan dan merupakan sistem klasifikasi yang sudah digunakan secara luas. 

Batas-batas yang digunakan Koppen secara umum berdasarkan batas asosiasi tumbuhan tertentu. Ada 5 kelompok utama dengan subdivisi yang telah diakui saat ini. Baca juga: Karakteristik bioma tundra

Iklim A
Humid tropical (A) climates: tanpa musim dingin, dengan seluruh bulan punya suhu rata-rata diatas 18⁰C.
Wet tropical climates (Af dan Am): berlokasi di sekitar ekuator, konstan memiliki suhu dan curah hujan yang cukup untuk mendukung tumbuh suburnya vegetasi hutan tropis. Af adalah hutan tropis dan Am adalah hutan musiman seperti jati.
Tropical wet and dry climates (Aw): terletak di arah kutub dari wet tropic dan di arah ekuator dari subtropical desert dimana hutan hujan digantikan oleh padang rumput dan pohon-pohon yang tahan dengan kondisi kering tersebar pada sabana. Ciri paling khas dari iklim ini adalah curah hujan yang berbeda tiap musim. Baca juga: Reaksi bowen pada siklus batuan
Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E
Hutan hujan tropis
Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E
Sabana Afrika

Iklim B
Dry (B) climates: presipitasi tahunan lebih kecil dari potensi evaporasi atau penguapan.Terbagi ke dalam dua tipe yaitu gurun (Bw) dan stepa (Bs). Perbedaan keduanya hanya kecil dengan stepa yang marjinal dan gurun lebih lembab.

Gurun dan stepa pada lintang rendah akan menghasilkan cuaca yang cerah karena pergerakan udara yang ke bawah akibat sabuk tekanan tinggi subtropis. Gurun dan stepa lintang tengah secara prinsip pada karena posisinya berada di bagian tengah benua yang memisahkan jauh dair lautan. 

Karena banyak gurun lintang tengah terletak pada daerah bawah angin (leeward) dari pegunungan maka gurun lintang tengah dapat juga diklasifikasikan sebagai rain shadow desert. Baca juga: Perambatan panas di permukaan bumi
Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E
Gurun dan padang rumput stepa
Iklim C
Middle-latitude climates with mild winters (C): suhu rata-rata bulan terdingin adalah dibawah 18⁰C dan di atas -3⁰C. Iklim C terbagi ke dalam beberapa subdivisi yaitu:
Humid subtropical climates (Cfa): terletak di sebelah timur benua, pada lintang 25-40 derajat. Musim panas dicirikan dengan cuaca yang panas dan gerah dan musim dingin yang sejuk.
Marine west coast climates (Cfb, Cfc): pengaruh massa udara lautan menyebabkan musim dingin dan musim panas yang sejuk.
Dry-summer subtropical climates (Csa, Csb): berlokasi di pantai barat kontinen pada lintang 30-45 derajat. Di musim panas region ini didominasi oleh kondisi yang stabil dan kering, berasosiasi dengan tekanan tinggi subtropis oseanik. Pada musim dingin kemungkinan untuk terkena musim bada siklon dari front kutub. Baca juga: Ciri tanah podzolik
 
Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E
Peta iklim mediteran
Iklim D
Humid middle-latitude climates with severe winters (D): sangat terpengaruh oleh keberadaan daratan, sehingga iklim ini tidak ada di belahan bumi selatan. Iklim ini memiliki ciri musim dingin yang keras. Suhu rata-rata bulan terdingin adalah -3⁰C atau lebih rendah dan bulan terpanas dapat di atas 10⁰C.

Humid continental climates (Dfa, Dfb, Dwa, Dwb): dibatasi oleh sisi timur amerika utara dan eurasia dan berkisar pada lintang 40-50 utara. Musim panas dan dingin dapat digolongkan relatif keras. Presipitasi umumnya lebih besar pada musim panas dibanding musim dingin.

Subarctic climates (Dfc, Dfd, Dwc, Dwd): terletak di utara humid continental climates dan selatan polar tundra. Ciri yang paling menonjol pada iklim ini adalah dominan musim dingin pada sepanjang tahun. Namun sebaliknya pada musim panas suhunya sangat hangat meski durasinya sangat pendek. Baca juga: Potensi air tanah permukaan dan dalam

Iklim E
Polar (E) climates: tidak ada musim panas, rata-rata suhu pada bulan terhangat di bawah 10⁰C. Dua subdivisi iklim E adalah:
Tundra climate (Et): tidak ada vegetasi, berada di bagian utara.
Ice cap climate (Ef): tidak satu bulanpun dalam setahun yang suhunya diatas 0⁰C. Dampaknya tidak ada vegetasi dan hanya tutupan salju permanen. Contohnya di pegunungan Alpen. Baca juga: Lokasi absolut dan relatif
Klasifikasi Iklim Koppen A, B, C, D dan E
Tundra yang tertutup salju

Rabu, November 29

Perbedaan Meteorologi dan Klimatologi

Perbedaan Meteorologi dan Klimatologi

Berita kondisi cuaca kini sudah menjadi kebutuhan manusia sehari-hari. Data cuaca diolah dan dianalisa oleh meteorologis dan klimatologis. 

Mereka adalah dua ilmuwan atmosfer yang mempelajari pola cuaca dan pengaruhnya bagi manusia dan lingkungan. Lalu apa beda meteorologi dan klimatologi?. 
 
Meteorologi adalah ilmu tentang cuaca sementara klimatologi adalah ilmu tentang iklim. Baca juga: Bedanya lokasi absolut dan relatif

Ahli meteorologi lebih fokus pada kondisi cuaca jangka pendek sementara ahli iklim lebih tertarik pada studi cuaca dalam jangka panjang yaitu iklim. Baru-baru ini isu global warming telah menjadi sumber ketidaksepahaman antara ahli cuaca dan ahli iklim.

Ahli iklim dan meteorologi menggunakan data radar dan satelit inderaja serta model komputer super canggih untuk mempelajari atmosfer. Ahli meteorologi dibagi dua macam yaitu 

1. Penyiar cuaca adalah seseorang yang menyiarkan dan memberitakan ramalan cuaca kepada khalayak di media. 2. Peneliti cuaca, yaitu seseorang yang bekerja pada lembaga negara/swasta yang bertugas mengumpulkan data cuaca untuk dianalisa. Baca juga: Front cuaca itu seperti apa?
Perbedaan Meteorologi dan Klimatologi
Cuaca kini bisa diprediksi
Ahli iklim atau klimatolog mempelajari kondisi saat ini dan masa lalu untuk memprediksi di masa depan seperti perubahan suhu dan presipitasi. Perbedaan utama meteorologi dengan klimatologi terletak pada perspektif waktu yang mereka bawa untuk mempelajari cuaca dan iklim. 

Ahli meteorologi menghasilkan prakiraan cuaca dalam jangka pendek yaitu 7 -10 hari ke depan. Baca juga: Fenomena angin Fohn

Ahli klimatologi menggunakan perspektif jangka panjang untuk mengembangkan model perubahan cuaca bulan ke bulan, tahun ke tahun bahkan abad. Seorang ahli meteorologi akan  memprediksi apakah akan turun pada esok hari, namun seorang ahli iklim akan memprediksi apakah pola iklim akan merubah jumlah curah hujan rata-rata di tahun mendatang.  Baca juga: Rumus iklim Schmidt Ferguson

Saat ini lembaga negara yang menyediakan data cuaca iklim di Indonesia adalah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Untuk bisa bekerja di BMKG, kamu harus sekolah khusus disana agar bisa meraih sertifika ahli cuaca dan iklim. 

Saat ini informasi cuaca di Indonesia selalu diupdate oleh BMKG untuk membantu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat cuaca buruk akan melanda. 
Gambar: disini

Selasa, Mei 2

Sebaran Pola Curah Hujan di Indonesia

Sebaran Pola Curah Hujan di Indonesia

Indonesia secara umum termasuk dalam kategori iklim tropis dengan dua musim yaitu penghujan dan kemarau. Akan tetapi sebaran curah hujan di setiap wilayah di Indonesia bervariasi karena berbagai faktor. 

Artinya di Indonesia tidak ada batas yang jelas antara musim penghujan dan musim kemarau karena Indonesia ada di wilayah Daerah Konvergensi Antar Tropik. Baca juga: Perbedaan Mesa, Butte dan Plateau

Jadi jangan heran jika kamu lihat berita terlevisi sekarang ini di Jawa Tengah sedang banjir tapi di Manado sedang kekeringan. 

Jangan beranggapan saat musim penghujan datang, semua wilayah Indonesia mendapatkan curah hujan yang besar. Berikut ini pola sebaran curah hujan di Indonesia:

1. Daerah pantai barat setiap pulau utama, mendapatkan curah hujan lebih tinggi dibanding pantai bagian timur.
2. Jumlah rata-rata curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar dibandingkan bagian timur.
3. Curah hujan akan meningkat sesuai ketinggian tempat. Curah hujan tertinggi berada pada ketinggian 600 - 900 mdpl.
4. Di wilayah pedalaman pulau, musim penghujan jatuh pada musim pancaroba.
5. Bulan maksimum hujan berada di dekat DKAT.
6. Curah hujan bergeser dari barat ke timur.

- Pantai barat Sumatera sampai Bengkulu mendapat curah hujan terbanyak di bulan November.
- Lampung dan Bangka yang berlokasi di timur Sumatera mendapat hujan terbanyak di bulan Desember.
- Jawa bagian utara, Bali dan Nusa Tenggara memperoleh curah hujan di bulan Januari - Februari.

7. Di wilayah Sulawesi selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah musim penghujan jatuh antara Mei - Juni. Saat itu daerah lain sedang mengalami musim kemarau. 
Sebaran Pola Curah Hujan di Indonesia
Peta Pola Hujan Indonesia
Setiap daerah punya rata-rata curah hujan yang berbeda, ada yang tinggi seperti di Baturaden dan ada yang rendah sekali seperti di Nusa Tenggara. Menurut BMKG, ada 3 pola hujan di Indonesia yaitu:

1. Pola Monsun, punya perbedaan jelas antara musim penghujan dan kemarau.
2. Pola Ekuatorial, punya 2 puncak musim hujan antara Maret dan Oktober.
3. Pola Hujan Lokal, hanya punya satu puncak musim hujan.

Sumber: BMKG

Rabu, April 5

Klasifikasi Iklim Tipe Oldeman

Klasifikasi Iklim Tipe Oldeman

Klasifikasi iklim bermacam-macam dan salah satunya yang sering digunakan di Indonesia adalah Klasifikasi Oldeman. Seperti Schmidt-Ferguson, Oldeman hanya menggunakan unsur curah hujan sebagai dasar dari klasifikasi iklim. 

Perbedaannya adalah Oldeman menggunakan metode bulan kering dan bulan basah berturut-turut dan dihubungkan untuk zonasi komoditas pertanian di daerah tertentu.

Baca juga:
Faktor bencana di Indonesia
13 negara yang berlokasi di garis ekuator
Pengertian, contoh konsep interaksi wilayah
Bentuk negara kesatuan dan federasi 
Klasifikasi Oldeman juga sering dikenal dengan sebutan zona agroklimat. Contohnya curah hujan 200 mm per bulan sangat cocok untuk budidaya padi basah. Sementara palawija cocok ditanam pada bulan dengan curah hujan 100 mm. Musim hujan selama 5 bulan berturut-turut cukup untuk dilakukan budidaya padi sawah dalam satu musim. 
Klasifikasi Iklim Tipe Oldeman
Iklim Oldeman cocok digunakan di Indonesia
Kriteria Iklim Oldeman
Bulan Basah = rata-rata curah hujan > 200 mm per bulan
Bulan Kering = rata-rata curah hujan < 100 mm per bulan
Bulan Lembab = rata-rata curah hujan 100 - 200 mm per bulan

Tipe Utama Iklim Oldeman
Iklim A = jika ada lebih dari 9 bulan basah berturut-turut
Iklim B = jika ada 7 - 9 bulan basah berturut-turut
Iklim C = jika ada 5 - 6 bulan basah berturut-turut
Iklim D = jika ada 3 - 4 bulan basah berturut-turut
Iklim E = jika ada < 3 bulan basah berturut-turut

Sub Tipe
1 = bulan kering berjumlah < atau sama dengan 1
2 = bulan kering 2 -3 kali
3 = bulan kering 4 - 6 kali
4 = ada > 6 bulan kering

Zona Agroklimat Oldeman 
A1, A2
Sesuai untuk budidaya padi terus-menerus namun produksi agak rendah karena kerapatan fluks matahari rendah sepanjang tahun.
B1
Sesuai untuk tanaman padi terus menerus dengan perencanaan awam musim tanam yang baik. Produksi maksimal jika dilakukan di musim kemarau.
B2
Dapat dibudidayakan padi dua kali setahun dengan varitas umur pendek dan musim kering pendek untuk palawija. Baca juga: Apa itu front meteorologi?
C1
Budidaya padi sekali dan palawija dua kali dalam satu tahun.
C2, C3, C4
Tanam padi sekali dan palawija dua kali setahun. Namun tanam palawija kedua harus hati-hati karena jatuh di musim kering.
D1
Tanam padi umur pendek satu kali dengan panen yang tinggi biasanya karena kerapatan fluks matahari tinggi. 
D2, D3, D4
Memungkinkan untuk satu kali padi dan satu kali tanam palawija, tergantung dari kestabilan irigasi.
E
Wilayah ini umumnya kering tandus, mungkin bisa untuk palawija sekali dan itu pun tergantung dari adanya hujan.

Baca juga:
Melihat kota Majalengka dari bukit paraland
Ayat quran tentang fenomena geografi 
Sumber: pixabay, BMKG

Senin, Maret 27

Perbedaan Iklim di Bumi

Perbedaan Iklim di Bumi

Bumi ini berbentuk bulat namun agak pepat di kutub dan menggelembung di ekuator. Pernahkah kamu bertanya, mengapa bisa ada variasi musim di bumi ini?. Lalu bagaimana jika tidak ada variasi musim di bumi?. 

Perlu diketahui bahwa alam semesta ini sudah didesain dengan sangat sempurna oleh Tuhan sehingga bisa tercipta sistem kehidupan yang sempurna di Bumi.

1. Perbedaan Belahan Bumi Menghasilkan Musim yang Berbeda
Di Eropa pada saat bulan Desember mungkin sedang mengalami musim dingin namun di belahan bumi selatan seperti Australia maka yang ada adalah musim panas. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?. 

Ini disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi bumi yaitu 23,5 derajat. Hal ini akan berdampak pada kecondongan wilayah di Bumi yang menghadap matahari pada bulan tertentu. 

Intinya antara belahan bumi utara dengan selatan akan mengalami perbedaan musim yang kontras. Jika di utara musim panas maka di selatan musim dingin, jikda di utara musim semi maka di selatan musim gugur. Jika sumbu rotasi bumi tidak miring maka yang terjadi adalah wilayah ekuator akan sangat panas dan wilayah utara dan selatan akan sangat dingin sekali.

Winter Soltice = Utara (Desember 21/22), Selatan (Juni 21/22)
Spring Equinox = Utara (Maret 20/21), Selatan (September 21/22)
Summer Soltice = Utara (Juni 20/21), Selatan (Desember 21/22)
Fall Equinox = Utara (September 22/23), Selatan (Maret 22/23)
Perbedaan Iklim di Bumi
Perubahan Musim di Bumi
2. Adanya Efek Coriolis di Bumi
Efek Coriolis adalah suatu efek pembelokan yang disebabkan oleh benda yang berputar. Di belahan bumi utara, efek ini akan membelokan angin dan arus laut ke kanan sehingga tornado akan berputar searah jarum jam. 

Karena arah rotasi bumi ke timur maka semua gejala terkait angin, arus, taifun dan lainnya akan dibelokkan ke kanan di belahan utara dan dibelokkan ke kiri di belahan selatan.

3. Iklim di Utara Lebih Hangat
Coba kamu lihat peta dunia dan bandingkan konisi benua diantara dua belahan bumi tersebut. Sepintas daratan di belahan bumi utara lebih besar dibanding di daerah selatan. Ingat bahwa dalam hukum fisika, daratan lebih cepata menyerap dan melepas panas dibanding lautan. 

Jadinya, secara umum cuaca di utara relatif lebih hangat dibandingkan di selatan. Namun itu secara umum saja karena pada dasarnya banyak faktor yang memengaruhi kondisi cuaca suatu daerah. 

Gambar: wikimedia

Sabtu, Maret 4

Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?

Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?

Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita akan berjumpa dengan hujan, panas, angin, petir dan lain sebagainya bukan?. Saat ini informasi tentang cuaca sangat dibuthkan oleh masyarakat. 

Update informasi tentang prakiraan hujan, badai, angin dan lainnya sangat membantu manusia dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Lalu apa bedanya cuaca dan iklim?

Cuaca atau weather merupakan kondisi atmosfer atau udara dalam waktu singkat dan meliputi wilayah yang tidak luas. Contoh dari perubahan cuaca tentu kita rasakan sehari-hari misalnya pagi hari hujan sementara siang panas. 

Atau di Jakarta sekarang sedang hujan gerimis sementara di Jogjakarta sedang hujan ringan. Baca juga: Bedanya wadi dan oasis gurun
Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?
Cuaca memengaruhi kehidupan sehari-hari
Iklim atau climate adalah kondisi rata-rata atmosfer yang berlangsung lama (minimal 30 tahun) dan meliputi wilayah yang luas. Contoh iklim adalah iklim tropis, iklim subtropis dan iklim kutub. Untuk menentukan tipe iklim dibutuhkan data yang lama sehingga nantinya diambil kesimpulan. 

Baca juga:
Kumpulan rumus hitungan geografi peta dan pemetaan
Mengapa arah utara itu ke atas?

Pada dasarnya unsur cuaca dan iklim adalah sama yaitu suhu, kelembaban, tekanan udara, angin dan awan. Para ahli menentukkan perbedaan kondisi cuaca dan iklim berdasarkan unsur-unsur tadi. Ada banyak klasifikasi iklim di dunia ini dan yang paling umum adalah Klasifikasi Iklim Matahari. 
Cuaca dan Iklim itu Bedanya Apa?
Iklim Matahari di Bumi
Iklim Matahari ini diklasifikasikan menurut intensitas panas yang diterima bumi  dalam satu tahun. Garis yang membagi iklim di bumi yaitu garis lintang. Indonesia masuk kategori iklim tropis karena berada di wilayah ekuator dengan intensitas matahari yang tinggi sepanjang tahun. 

Iklim tropis hanya punya dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan dengan musim pancaroba atau peralihan diantara keduanya. Baca juga: Jenis-jenis presipitasi

Apakah iklim di Indonesia bisa berubah?. Bisa, jika posisi Indonesia bergeser ke arah subtropis. Mengapa kerak bumi bergeser?, Ini karena adanya arus konveksi yang menyebabkan lempeng tektonik bergerak. 

Jadi kalau sekarang Indonesia bergerak 1 cm per tahun ke utara maka perlu jutaan tahun untuk merubah Iklim Indonesia. Dahulu gurun Sahara juga terletak di daerah tropis sehingga tidak tandus seperti saat ini. 

Namun gerakan lempeng Afrika ke utara menyebabkan Sahara pindah dari ekuator ke subtropis sehingga dataran yang tadinya subur penuh air kini menjadi gurun tandus. 
Gambr: flickr

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done
Iklan